Materi SMP K13 Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas 7 Semester 1 Bab 2 Interaksi Sosial

Interaksi Sosial

Interaksi Sosial-BiarPintar.Com – Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu, manusia perlu berinteraksi dengan manusia lainnya. Interaksi sosial yang menjadi syarat utama terjadinya aktivitas­-aktivitas sosial ini merupakan hubungan sosial yang dinamis. Interaksi sosial menyangkut hubungan antar perorangan, antar kelompok, atau antara individu dengan kelompok. Bagaimanakah bentuk interaksi sosial itu? Apa pengaruhnya terhadap kehidupan bermasyarakat? Guna menjawab pertanyaan­-pertanyaan tersebut mari kita mempelajari materi yang akan dibahas pada tulisan kali ini.

Pengertian Interaksi Sosial

Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih, dan masing-­masing orang yang terlibat di dalamnya memainkan peran secara aktif.

Dalam interaksi juga lebih dari sekedar terjadi hubungan antara pihak-­pihak yang terlibat melainkan terjadi saling memengaruhi.

Interaksi sosial berasal dari istilah dalam bahasa Inggris social interaction yang berarti saling bertindak. Hubungan interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, bersifat timbal balik antar individu, antar kelompok, dan antara individu dengan kelompok.

Interaksi sosial terjadi apabila satu individu melakukan tindakan sehingga menimbulkan reaksi bagi individu-­individu lain. Interaksi sosial tidak hanya berupa tindakan yang berupa kerja sama, tetapi juga bisa berupa persaingan dan pertikaian.

Pengertian Interaksi Sosial Menurut Para Ahli

Berikut merupakan pengertian interaksi sosial menurut para ahli, yaitu sebagai berikut:
a. Gilin
Pengertian interaksi sosial menurut Gillin bahwa interaksi sosial adalah hubungan­ hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antar individu dan kelompok atau antar kelompok.
b. Macionis
Menurut Macionis bahwa pengertian interaksi sosial adalah proses bertindak dan membalas tindakan yang dilakukan seseorang dalam hubungan dengan orang lain.
c. Soerjono Soekanto
Pengertian interaksi sosial menurut Soerjono Soekanto bahwa interaksi sosial adalah proses sosial mengenai cara­-cara berhubungan yang dapat dilihat jika individu dan kelompok-­kelompok sosial saling bertemu serta menentukan sistem dan hubungan sosial.
d. Broom dan Selznic
Menurut Broom dan Selznic, bahwa pengertian interaksi sosial adalah proses bertindak yang dilandasi oleh kesadaran adanya orang lain dan proses menyesuaikan respon (tindak balasan) sesuai dengan tindakan orang lain.
e. Kimball Young dan Raymond W. Mack
Pengertian interaksi sosial menurut Kimball Young dan Raymond W. Mack adalah hubungan sosial yang dinamis dan menyangkut hubungan antar individu, antara individu dengan kelompok maupun antara kelompok dengan kelompok lainnya.
f. Homans
Menurut Homans, pengertian interaksi sosial adalah suatu kejadian ketika suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang terhadap individu lain diberi ganjaran atau hukuman dengan menggunakan suatu tindakan oleh yang menjadi pasangannya.

Syarat Interaksi Sosial

Supaya interaksi sosial dapat terjadi, dibutuhkan beberapa syarat. Syarat itu diantaranya adalah kontak sosial dan komunikasi. Mengapa kontak dan komunikasi harus ada dalam proses interaksi sosial? Karena interaksi sosial dapat terjadi apabila ada kontak antara satu orang dengan yang lain dan adanya komunikasi yang baik. Tanpa dua hal itu, interaksi sosial tidak dapat terjadi. Berikut akan dijelaskan lebih mendetail mengenai kedua syarat terjadinya interaksi sosial.

Menurut Gilin dan Gilin seperti dikutip oleh Soerjono Soekanto, syarat terjadinya interaksi sosial adalah sebagai berikut:

Kontak sosial

Interaksi Sosial img kontak sosial
Gambar 2.2 Kontak sosial
Sumber:https://rauffihayatul.files.wordpress.com/2013/02/timthumb.jpeg

Kontak sosial adalah hubungan antara satu pihak dengan pihak lain yang merupakan awal terjadinya interaksi sosial dan masing­-masing pihak saling bereaksi meski tidak harus bersentuhan secara fisik.
Kata ‘kontak’ berasal dari kata ‘con’ atau ‘cum’ (Bahasa Latin: bersama­sama) dan ‘tango’ (Bahasa Latin: menyentuh). Jadi, secara harfiah kontak artinya adalah ‘sama-sama menyentuh’. Secara fisik kontak sosial baru terjadi apabila terjadi hubungan badaniah. Akan tetapi, sebagai gejala sosial tidak harus berarti suatu hubungan badaniah. Karena seseorang dapat mengadakan hubungan dengan pihak lain tanpa saling menyentuh seperti saat saling menyapa dan berbicara dengan menggunakan bahasa isyarat. Dalam interaksi sosial seseorang dikatakan telah melakukan kontak sosial apabila telah terjadi aksi dan reaksi antara kedua belah pihak minimal secara verbal atau berupa tanda isyarat/simbol.

Dalam kehidupan sehari-­hari, manusia senantiasa melakukan kontak dengan manusia lainnya. Kondisi ini tidak dapat dihindari oleh manusia karena manusia adalah makhluk sosial. Wujud kontak tidak selamanya harus terjadi persentuhan secara fisik, tetapi juga bisa secara verbal atau bahkan hanya berupa reaksi pasif seperti simbol. Penyampaian pesan sebagai tujuan dari adanya kontak sosial dapat juga dilakukan dengan menggunakan media atau alat komunikasi seperti radio, televisi, telepon, dan sebagainya. Komunikator adalah orang yang menyampaikan pesan dan komunikan adalah orang yang menerima pesan. Suatu kontak dapat pula bersifat primer atau sekunder. Apa syarat kontak primer dapat terjadi dalam interaksi sosial? Kontak primer terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan berhadapan muka, seperti misalnya apabila orang­-orang tersebut berjabat tangan, saling senyum, dan seterusnya. Sebaliknya kontak sekunder memerlukan suatu perantara. Misalnya A berkata kepada B bahwa mengagumi perannya sebagai peranan utama salah satu sandiwara. A sama sekali tidak bertemu dengan C, tetapi telah terjadi kontak antara mereka karena masing­-masing memberi tanggapan, walaupun dengan perantara B. Suatu kontak sekunder dapat dilakukan secara langsung. Pada yang pertama, pihak ketiga bersikap pasif, sedangkan yang terakhir pihak ketiga sebagai perantara mempunyai peranan yang aktif dalam kontak tersebut. Hubungan-­hubungan yang sekunder tersebut dapat dilakukan melalui alat­-alat misalnya telepon, telegraf, radio, dan seterusnya. Dalam hal A menelpon B, maka terjadi kontak sekunder langsung, tetapi apabila A meminta tolong kepada B supaya diperkenalkan dengan gadis C, kontak tersebut bersifat kontak sekunder tidak langsung.

Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu sebagai berikut:
1) Kontak Antar individu
Kontak antar individu adalah kontak yang terjadi antara individu dengan individu. Contohnya kontak antar teman, kontak anak dengan ibunya, kontak guru dengan salah satu siswanya, dan lain­-lain.
interaksi sosial img kontak antarindividu
Gambar 2.3 Kontak antarindividu
Sumber: http://2.bp.blogspot.com/­FpIfNAYALxQ/Ti0MVrakfnI/AAAAAAAAA­U/Wy3awqH­jYA/s1600/IMG_8794.JPG

2) Kontak Antar individu dengan Kelompok dan Sebaliknya
Kontak antar individu dengan kelompok adalah kontak yang terjadi antara individu dengan suatu kelompok tertentu. Contoh: kontak yang terjadi saat seseorang mempresentasikan sesuatu dengan beberapa orang lain dan kontak antara guru dengan para siswa di kelas.
interaksi sosial img kontak individu dengan kelompok
Gambar 2.4 Kontak individu dengan kelompok
Sumber: http://3.bp.blogspot.com/­E3ze4LBNm_A/TqPbxEzprpI/AAAAAAAAARU/bIMWxVqbkyA/s1600/guru­mengajar1.jpg

3) Kontak Antar kelompok
Kontak antar kelompok adalah kontak yang terjadi antara kelompok satu dengan kelompok yang lain. Contohnya kontak bisnis antar perusahaan dan kontak antar tim sepak bola saat bertanding.
interaksi sosial img kontak antarkelompok
Gambar 2.5 Kontak antarkelompok
Sumber: http://3.bp.blogspot.com/­kSrSY1shf0s/VSb7bfHJNEI/AAAAAAAAAC4/9syChNmRPN4/s1600/8188487_orig.jpg

Komunikasi

Komunikasi berasal dari kata ‘communicare’ (Bahasa Latin: berhubungan). Jadi, secara harfiah komunikasi adalah berhubungan atau bergaul dengan orang lain. Pada kontak sosial pengertiannya lebih ditekankan kepada orang atau kelompok yang berinteraksi, sedangkan komunikasi lebih ditekankan kepada bagaimana pesannya itu diproses.
Komunikasi muncul setelah kontak berlangsung (ada kontak belum tentu terjadi komunikasi). Komunikasi memiliki maksud yang luas dibandingkan dengan kontak, karena komunikasi dapat memiliki dan menimbulkan beberapa penafsiran yang berbeda-­beda. Seperti tersenyum dapat ditafsirkan sebagai penghormatan atau ejekan terhadap seseorang.
interaksi sosial img komunikasi
Gambar 2.6 Komunikasi
Sumber: http://4.bp.blogspot.com/­uCAawomPPZU/VojQJhHNQ_I/AAAAAAAAACA/qIrhxRgAOcQ/s1600/Berkomunikasi­Dengan­Baik­di­ Tempat­Kerja.jpg

Pada komunikasi dalam interaksi sosial terdapat unsur­-unsur, yaitu pengirim, penerima, pesan, media, dan umpan balik. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
1) Pengirim (sender) atau yang biasa disebut communicator adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada orang lain.
2) Penerima (receiver) yang biasa disebut communicant adalah pihak yang menerima pesan dari sender.
3) Pesan (message) adalah isi atau informasi yang disampaikan pengirim kepada penerima.
4) Media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan di komunikator kepada khalayak. Media digolongkan menjadi empat yaitu media antar pribadi, media kelompok, media publik, dan media massa.
interaksi sosial img media massa
Gambar 2.7 Media massa
Sumber:http://agoezperdana.com/wp­content/uploads/2012/07/ media­massa.jpg
5) Umpan balik (feedback) adalah reaksi dari penerima atas pesan yang diterima.

Ciri-ciri Interaksi Sosial

Ciri-ciri Interaksi sosial adalah:
a. Pelakunya lebih dari satu orang.
b. Ada komunikasi di antara pelaku melalui kontak sosial.
c. Mempunyai maksud dan tujuan yang jelas, terlepas dari sama atau tidaknya tujuan tersebut dengan yang diperkirakan pelaku.
d. Ada dimensi waktu (masa lampau, masa kini, dan masa datang) yang akan menentukan sikap aksi yang sedang berlangsung.

Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial

Berikut merupakan faktor yang mempengaruhi interaksi sosial atau faktor pendorong interaksi sosial yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Imitasi
Faktor yang mempengaruhi interaksi sosial yang pertama adalah imitasi, pengertian dari imitasi adalah suatu dorongan untuk meniru, yang mana imitasi ini mempunyai peran yang sangat penting dalam proses interaksi sosial. Imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi aturan atau norma­-norma yang berlaku, akan tetapi imitasi juga dapat mengakibatkan hal­-hal yang negatif. Selain itu juga imitasi dapat melemahkan atau mematikan pengembangan daya kreasi seseorang (karena hanya meniru).

Berikut beberapa contoh imitasi dalam interaksi sosial:
a) Imitasi Posifit
Contoh imitasi positif diantaranya adalah kebiasaan anak bangun pagi karena melihat orangtuanya selalu bangun pagi, kebiasaan orangtua yang suka berolahraga ditiru oleh anaknya, seorang kakak yang pintar karena rajin belajar maka adiknya berusaha menirukan apa yang dilakukan kakaknya.
b) Imitasi Negatif
Contoh imitasi negatif diantaranya adalah seorang anak meniru perilaku merokok karena sering melihat perilaku orangtuanya merokok, kebiasaan orangtua yang suka begadang ditiru oleh anaknya, seorang kakak yang perilakunya kasar dan suka marah-marah ditiru adiknya.

interaksi sosial img imitasi
Gambar 2.8 Imitasi anak meniru tingkah laku ayahnya
Sumber: https://encrypted­tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTBmbPbwkT5VRMBcodRmYfRslCjgTRy4hfMnDt3zGHla3gZ8iPJnA

b. Sugesti
Faktor yang memengaruhi interaksi sosial yang kedua adalah sugesti. Sugesti dapat terjadi ketika seseorang memberikan pandangan atau sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain. Jadi proses sugesti hampir sama dengan imitasi, tetapi titik tolaknya berbeda. Berlangsungnya sugesti dapat terjadi karena pihak yang menerima dilanda emosi yang dapat menghambat daya berpikir rasional dan akal sehat. Biasanya sugesti berasal dari orang­-orang sebagai berikut:
1) Orang yang memiliki wibawa, karismatik, dan punya pengaruh terhadap orang lain (yang disugesti), misalnya ustad, orang tua, ulama, pejabat, guru, direktur dan lain­-lain.
2) Orang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dari yang disugesti.
3) Kelompok yang lebih banyak (mayoritas) terhadap kelompok yang lebih kecil (minoritas).
4) Reklame atau iklan yang ada pada media massa (contoh, iklan di televisi, media sosial, iklan di radio, koran, website dan lain sebagainya).

Berikut beberapa contoh sugesti dalam interaksi sosial, seperti Meminta saran kepada orang yang berkedudukan lebih tinggi misalnya atasan di kantor, Iklan yang ditampilkan di media cetak, elektronik, dll, hampir semuanya bersifat sugesti, teknik hipnotis untuk memberikan sugesti supaya berhenti merokok dan menganggap rokok itu sesuatu yang menjijikkan.
interaksi sosial img sugesti
Gambar 2.9 Sugesti yang bersifat positif
Sumber:https://umarat.files.wordpress.com/2011/08/suasana­mario­teguh­fikrirasyid­com.jpg

c. Identifikasi
Faktor yang memengaruhi interaksi sosial yang ketiga adalah identifikasi. Identifikasi merupakan kecenderungan atau keinginan yang terdapat pada seseorang untuk membuat dirinya menjadi sama (identik atau serupa) dengan orang lain yang disukainya. Identifikasi ini lebih mendalam daripada imitasi, karena kepribadian yang dimiliki oleh orang tersebut dapat tercipta atas dasar proses ini. Berlangsungnya identifikasi dapat mengakibatkan terjadinya suatu pengaruh yang lebih mendalam daripada proses imitasi dan juga proses sugesti. Ada kalanya, proses identifikasi didahului dengan proses imitasi dan juga sugesti.

Berikut beberapa contoh identifikasi dalam interaksi sosial, seperti tindakan seorang anak mengikuti gaya ayahnya. Hal ini disebabkan karena anak tersebut secara langsung mengidolakan ayah serta mencoba identifikasi dirinya sebagai calon penerus ayahnya, seorang yang gila bola dan mengidolakan Cristiano Ronaldo dari Juventus maka dia berusaha meniru, baik dengan membeli pakaian dengan nama tersebut, ataupun meniru gaya saat ia memasukan bola ke gawang lawan.
interaksi sosial img identifikasi
Gambar 2.10 Seseorang yang mengidentifikasikan dirinya dengan artis
Sumber: http://3.bp.blogspot.com/­5FghtCts9i0/VU8HLiYHYFI/AAAAAAAACAY/NzaeyOWgyvs/s1600/imagesqq.jpg

d. Simpati
interaksi sosial img simpati
Gambar 2.11 Simpati
Sumber: http://www.gelombangotak.com/images/manfaat%20empati.jpg

Faktor yang memengaruhi interaksi sosial yang keempat adalah simpati. Simpati merupakan suatu proses di mana seseorang akan memiliki rasa tertarik atau daya tarik kepada pihak lain. Di dalam proses ini perasaan seseorang memegang peranan yang sangat penting. Simpati yang muncul dalam proses interaksi sosial bertujuan untuk memahami pihak lain sehingga dapat bekerjasama. Dorongan utamanya, yaitu keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dengannya.

Inilah perbedaannya dengan identifikasi yang didorong oleh keinginan untuk belajar dari pihak lain yang dianggap pribadinya lebih tinggi dan layak untuk dihormati, karena mempunyai kelebihan atau kemampuan tertentu yang patut dijadikan contoh atau teladan bagi dirinya. Proses simpati akan berkembang di dalam suatu keadaan di mana faktor saling mengerti dapat ditumbuhkan.

Berikut beberapa contoh simpati dalam interaksi sosial, seperti menberikan ucapan selamat kepada teman yang menjadi juara kelas, mengucapkan bela sungkawa kepada teman yang ayahnya baru saja meninggal, menjenguk tetangga yang sakit, memberikan bantuan kepada korban bencana alam dll.

e. Empati
Faktor yang memengaruhi interaksi sosial yang kelima adalah empati. Perasaan empati kepada seseorang ini hampir mirip dengan perasaan simpati kepada seseorang, akan tetapi perasaan empati tidak hanya sebatas kejiwaan saja seperti pada perasaan simpati. Perasaan empati ini akan mucul bersamaan dengan perasaan organisme tubuh yang sangat dalam.

Berikut beberapa contoh empati dalam interaksi sosial, seperti jika suatu daerah yang terkena bencana gunung meletus, maka perasaan empati akan membuat kita seolah­-olah juga ikut sedih dan ikut terkena bencana. Kita tidak hanya merasa sedih atau kasihan tetapi kita juga ikut merasakan penderitaannya. Ketika melihat orang tua renta di jalanan yang harus mengemis untuk menyambung hidup, rasa empati kita akan muncul dan merasakan bagaimana getirnya kehidupan manusia di hari tua. Oleh karena itu, kita akan membantu sebisa mungkin dengan memberikan sedekah. Ketika melihat anak-anak jalanan yang harus mengemis dan mengamen untuk menyambung hidup, hati kita terketuk dan berempati sehingga mendorong kita untuk memberikan pendidikan agar anak-anak tersebut bisa memiliki masa depan yang lebih baik.

Gambar 2.12 Empati
Sumber:https://cdn­standard4.discourse.org/uploads/dictio/original/2X/6/63ab4c2f28a27737957620fd07bb90f4cfb65150.jpg

f. Motivasi
Faktor yang memengaruhi interaksi sosial yang keenam adalah motivasi. Motivasi dengan sugesti juga hampir sama, sugesti bisa mengarah ke hal yang positif dan negatif (lebih condong ke negatif) sedangkan motivasi lebih mengarah ke hal-­hal yang positif. Karena motivasi adalah suatu dorongan, rangsangan ataupun pengaruh yang diberikan oleh seseorang kepada orang lainnya, sehingga orang yang diberi motivasi tersebut akan termotivasi dan menuruti atau melaksanakan apa yang telah dimotivasikan secara kritis, rasional dan penuh tanggung jawab.

Berikut beberapa contoh motivasi dalam interaksi sosial, seperti Budi pribadi yang pemalu untuk berinteraksi dengan teman-temannya sehingga lebih memilih menyendiri. Hal ini menjadi perhatian wali kelasmya yang akhirnya memberikan nasihat dan semangat padanya hingga ia menjadi sosok yang percaya diri, membaca biografi orang sukses dan kemudian berusaha agar menjadi sukses seperti orang tersebut, belajar giat karena ingin membanggakan orang tua dan keluarga, bekerja keras dan menabung demi membeli rumah impian.

Gambar 2.13 Motivasi
Sumber: http://3.bp.blogspot.com/­­oituhSPk_0/VSVlL­EmB4I/AAAAAAAABrY/nEQP03GWmk4/s1600/sukses.jpg

Faktor Pembentuk Interaksi Sosial

Selain faktor yang memengaruhi, interaksi sosial dapat terjadinya karena adanya faktor­-faktor yang membentuknya sehingga memunculkan proses terjadinya interaksi sosial. Faktor pembentuk interaksi sosial terjadi dalam dua faktor yakni faktor dari dalam diri seseorang atau faktor dari individu itu sendiri dan faktor dari luar individu atau dari luar orang tersebut. Dari kedua faktor-­faktor tersebut terdapat berbagai dorongan­-dorongan yang membuat hal­-hal dalam interaksi dapat terjadi dapat berhubungan dengan yang lain seperti dalam pengertian interaksi sosial sehingga kedua faktor terjadinya interaksi sosial sangat memiliki peran penting dalam terjadinya interaksi sosial.

a. Dari dalam Diri Seseorang
Berikut adalah dorongan yang dapat membentuk interaksi sosial dalam diri seseorang, yaitu sebagai berikut:
1) Dorongan Kodrati sebagai Makhluk Sosial
Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk pribadi dan sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia mempunyai kecenderungan untuk bergaul dengan sesama manusia. Bahkan menurut Howard Gardner, setiap manusia memiliki potensi kecerdasan antar pribadi, yaitu kecerdasan dalam mengelola hubungan dengan orang lain. Oleh karena itu, wajar apabila setiap orang mempunyai kecenderungan kuat untuk berinteraksi dengan orang lain. Di lain pihak, potensi kemanusiaan seseorang juga hanya akan berkembang melalui interaksi sosial.

Gambar 2.14 Potensi kemanusiaan
Sumber: http://di­ta.com/wp­content/uploads/2011/03/dentist­ dita.jpg

2) Dorongan untuk Memenuhi Kebutuhan
Dalam kehidupan sehari-­hari, manusia menyadari bahwa banyak hal dalam hidupnya yang tergantung pada orang lain. Misalnya, untuk memenuhi kebutuhan akan sandang, pangan,dan papan, setiap orang memerlukan orang lain. Kebutuhan akan rasa aman, kasih sayang, diterima, dihargai, dan lain sebagainya jelas memerlukan orang lain sebagai sumber pemenuhannya. OIeh karena itulah, manusia memiliki kecenderungan untuk berinteraksi dengan orang lain dalam upaya memenuhi kebutuhan dirinya. Lebih dan itu, ada kebutuhan-­kebutuhan manusia yang hanya dapat dipenuhi secara bersama­sama atau yang hanya dapat dipenuhi dengan mudah jika diusahakan bersama-­sama. Misalnya, menciptakan keamanan dan kenyamanan, memperoleh keturunan penerus umat manusia sampai mencapai kebahagiaan. Manusia membutuhkan orang lain untuk mewujudkannya. Oleh karena itu, manusia mengembangkan pola-­pola interaksi sosial ke dalam pranata dan struktur sosial. Di dalam masyarakat yang berstruktur itu, manusia melangsungkan hidup dan mengupayakan pemenuhan kebutuhan­kebutuhan hidupnya.

Gambar 2.15 Bekerja untuk memenuhi kebutuhan
Sumber:https://cdn.idntimes.com/content­images/post/20160616/operator­produksi­e0b02008a866226bb5aec773d6cd7ca6.jpg

3) Dorongan untuk Mengembangkan Diri dan Memengaruhi Orang Lain
Manusia juga memiliki potensi dan kehendak untuk mengembangkan diri sendiri dan sesamanya. Upaya pengembangan pribadi tersebut antara lain dilakukan dengan melakukan imitasi dan identifikasi. Dalam rangka imitasi dan identifikasi itulah seseorang didorong untuk melakukan interaksi sosial. Imitasi adalah tindakan seseorang meniru sikap, penampilan, gaya hidup, dan bahkan segala sesuatu yang dimiliki orang lain. Misalnya, imitasi seorang remaja terhadap artis idolanya. Imitasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses interaksi sosial dan dapat berdampak positif maupun negatif. Apabila yang ditiru adalah orang­-orang yang berperilaku baik atau sesuai dengan kehendak masyarakat, maka dampaknya akan positif bagi individu tersebut.

b. Faktor dari Luar Individu
Di samping dorongan yang berasal dari dalam diri sendiri, interaksi sosial juga dirangsang oleh hal yang ada di luar diri seseorang. Tindakan orang lain, sikap diam orang lain, atau kejadian­-kejadian yang berlangsung disekitar kehidupan seseorang merupakan hal­-hal yang dapat merangsang timbulnya interaksi sosial. Karena disapa orang lain, maka kita terlibat interaksi dengan orang tersebut. Karena penasaran atas sikap diam orang yang kita kenal, maka kita terdorong untuk bertanya dan mencari tahu masalahnya sehingga terjadi interaksi sosial. Karena ingin mengetahui apa sebab­-sebab sebuah kecelakaan lalu­ lintas, kita bertanya kepada orang yang ada di tempat kejadian, maka terjadilah interaksi sosial. Interaksi sosial selalu terjadi karena ada aksi dan reaksi diantara pihak-­pihak yang terlibat di dalamnya.

Gambar 2.16 Orang saling menyapa
Sumber: https://espadax2.files.wordpress.com/2010/08/dsc01970.jpg

Macam-macam Interaksi Sosial

Menurut Maryati dan Suryawati, macam dan jenis-jenis interaksi sosial dapat dibagi menjadi tiga yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

Interaksi Sosial antara Individu-individu

Jenis interaksi sosial yang pertama adalah interaksi sosial antara individu yang satu dengan individu yang lain. Dalam interaksi sosial antara individu yang satu dengan individu yang lain terdapat nilai positif dan negatifnya. Interaksi sosial antara individu dengan individu dapat bersifat positif apabila keduanya saling menguntungkan atau bekerjasama. Sebaliknya, interaksi sosial antara individu dengan individu akan bersifat negatif apabila antara keduanya menghasilkan suatu konflik atau pertentangan yang merugikan salah satu pihak ataupun keduanya. Wujud interaksi ini dapat berupa bentuk berjabat tangan, saling menegur, bercakap­-cakap atau mungkin bertengkar.
Contoh interaksi sosial indivdu dengan individu adalah sebagai berikut:
1) Seorang kakak mengajari adeknya belajar matematika.
2) Indah belajar bermain yang diajar oleh Satriawan.
3) Seorang dokter dengan pasiennya.
4) Seorang siswa bertanya kepada gurunya.

Gambar 2.26 Kakak mengajari adiknya Sumber:http://2.bp.blogspot.com/­JaELac2PfTc/VRAX5A69b8I/AAAAAAAAAOI/7cn5VOjBtGo/s1600/bimbel%2Bpertemuan%2B3.png

Interaksi Sosial antara Individu dan Kelompok


Gambar 2.27 Komandan dan anggotanya
sumber: http://1.bp.blogspot.com/_4Ulhsnr0_Co/TCoPIJDA_7I/AAAAAAAAPQ8/hFGv8VeYAMM/s1600/Satgasmar07.jpg

Interaksi sosial antara individu dan kelompok merupakan jenis interaksi yang kedua.Bentuk interaksi sosial individu dan kelompok bermacam­-macam tergantung dengan situasi dan kondisi yang ada. Secara konkret bentuk interaksi sosial antara individu dengan kelompok misalnya di dalam ruang kelas, seorang guru sedang mengajari siswa­-siswanya, atau seorang orator yang sedang berpidato di depan orang banyak. Bentuk interaksi semacam ini menunjukkan bahwa kepentingan seorang individu berhadapan dengan kepentingan kelompok.
Contoh interaksi sosial individu dengan kelompok adalah sebagaiberikut:
1) Presiden dengan rakyatnya.
2) Guru dengan siswanya.
3) Komandan dengan anggotanya.
4) Khotbah jumat dimasjid.

Interaksi Sosial antara Kelompok dengan Kelompok

Interaksi sosial yang ketiga yaitu interaksi sosial antara kelompok dengan kelompok. Pada interaksi sosial jenis ini terjadi sebagai satu kesatuan bukan kehendak pribadi. Bentuk interaksi seperti ini menunjukan bahwa kepentingan individu dalam kelompok merupakan satu kesatuan, berhubungan dengan kepentingan individu dalam kelompok lain. Misalnya saja kerja sama antara dua tim sepak bola untuk berlatih bersama atau kerja sama antara dua perusahaan untuk membicarakan suatu proyek. Contoh interaksi sosial kelompok dengan kelompok adalah sebagai berikut:
1) PMR dan Pramuka bekerja sama dalam pemberian bantuan.
2) Polisi dengan TNI saling bekerjasama memberantas preman.
3) Kelompok A dan Kelompok B saling berdebat atau mendiskusikan sesuatu.
4) Osis dengan Pramuka saling membantu dalam menyukseskan kegiatan tanam 10000 bibit.

Gambar 2.28 Interaksi sosial
Sumber: http://cdn2.tstatic.net/tribunnews/foto/bank/images/ratusan­ personel­kodim­0618bs­punguti­sampah­menyusuri­sungai­ cidurian_1_20160805_100122.jpg

Bentuk Interaksi Sosial

Terdapat berbagai wujud dari interaksi sosial. Berdasarkan pendapat Gillin menyebutkan dua macam dari proses sosial dengan timbul dari akibat adanya interaksi sosial, yaitu proses asosiatif atau bersekutu (processes of association) dan proses disosiatif/ memisahkan (processes of dissociation).

Proses Interaksi Sosial Asosiatif

Proses interaksi sosial asosiatif adalah proses menuju terbentuknya persatuan atau interaksi sosial. Interaksi sosial secara asosiatif memiliki sifat positif, artinya mendukung seseorang atau kelompok dalam mencapai tujuan tertentu. Proses asosiatif memiliki bentuk-­bentuk antara lain sebagai berikut:
1) Kerja Sama

Gambar 2.29 Kerja sama
Sumber:https://4.bp.blogspot.com/­rJplBFM0xXI/V7ETrPTmaNI/AAAAAAAAAGI/GVYUoounE58c8OKvqaiJ_nFVoXpHo­ 6uQCLcB/s1600/lomba%2Bestafet%2Bpingpong.jpg

Kerjasama (cooperation) adalah usaha bersama antar manusia untuk mencapai tujuan bersama. Dengan perkataan lain, kerjasama adalah suatu bentuk interaksi sosial individu-individu atau kelompok-­kelompok berusaha saling menolong untuk mencapai tujuan bersama atau mengoordinasikan kegiatan mereka guna mencapai tujuan bersama. Kerja sama merupakan proses sosial yang paling banyak terjadi di masyarakat. Masyarakat yang sangat kompetitif pun tidak akan dapat berjalan, jika tidak ada kerja sama di dalamnya. Kerja sama dapat terjadi dengan sendirinya, tanpa disadari oleh pihak-­pihak yang bekerja sama. Contoh, pengendara motor di jalan raya sering tidak menyadari bahwa dirinya tengah bekerja sama dengan pengendara sepeda motor lainnya dengan cara saling menjaga jarak yang aman serta saling tetap di jalur masing­-masing. Di lain pihak, ada juga kerja sama yang dilakukan secara sengaja dan diketahui oleh para pihak yang bekerja sama. Misalnya, kerja sama yang dilakukan penduduk desa dalam membangun rumah ibadah. Setiap bentuk interaksi sosial dapat berpengaruh kepada pribadi dan masyarakat yang bersangkutan. Kerja sama cenderung memunculkan pribadi yang sensitif pada orang lain, memperhatikan orang lain, merasa aman, tenang, dan kalem serta tidak agresif. Masyarakat yang menjunjung tinggi kerja sama dan menghindari kompetisi dan konflik cenderung tenang dan teratur, dengan sedikit tekanan emosi atau rasa tidak aman, serta relatif rendah tingkat perubahan sosialnya.
2) Akomodasi
Akomodasi adalah suatu proses penyesuaian diri individu atau kelompok manusia dengan semula saling bertentangan untuk upaya mengatasi ketegangan. Akomodasi berarti adanya keseimbangan interaksi sosial dengan norma dan nilai yang ada dalam masyarakat. Akomodasi seringkali merupakan cara untuk menyelesaikan pertentangan, entah dengan cara menghargai kepribadian yang berkonflik ataupun paksaan (tekanan).
3) Asimilasi
Asimilasi adalah usaha-­usaha untuk meredakan perbedaan antar individu atau antar kelompok guna mencapai satu kesepakatan berdasarkan kepentingan dan tujuan­-tujuan bersama. Menurut Koentjaraningrat, prosedur asimilasi akan timbul bila ada kelompok-­kelompok yang mempunyai perbedaan kebudayaan. Kemudian, individu­-individu dalam kelompok tersebut berinteraksi secara langsung secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama, sehingga kebudayaan masing­masing kelompok berubah dan menyesuaikan diri.

Gambar 2.31 Contoh Asimilasi
Sumber: http://image1.malesbanget.com/mbdcposts/2014/10/ Artis2­Luar­Negeri­yang­Cinta­Indonesia2.jpg

Dalam asimilasi penyerapan terjadi proses identifikasi diri dengan kepentingan­-kepentingan dan tujuan kelompok. Apabila dua kelompok atau dua orang berbuat asimilasi, maka batas­batas antar kelompok akan hilang dan keduanya melebur menjadi satu kelompok baru.
4) Akulturasi

Gambar 2.32 Akulturasi budaya
Sumber:https://kamaremang.files.wordpress.com/2013/12/masjid­ cheng­hoo_2.jpg

Akulturasi adalah proses penerimaan dan pengolahan unsu-r­unsur kebudayaan asing menjadi bagian dari kultur suatu kelompok, tanpa menghilangkan kepribadian kebudayaan asli. Akulturasi merupakan hasil dari perpaduan kedua kebudayaan dalam waktu lama. Unsur kebudayaan asing sama-sama diterima oleh kelompok yang berinteraksi, selanjutnya diolah tanpa menghilangkan kepribadian kebudayaan yang asli sebagai penerima.
Contoh akulturasi adalah sebagai berikut:
a) Kebudayaan Hindu dan kebudayaan Islam bertemu di Indonesia kemudian menciptakan kebudayaan Islam yang bercorak Hindu.
b) Musik Melayu bertemu dengan musik Portugis dibawa oleh para penjajah menghasilkan musik keroncong.
5) Paternalisme
Paternalisme adalah penguasaan kelompok pendatang terhadap kelompok anak negeri. Perekonomian suatu wilayah kadangkala dikuasi oleh kelompok pendatang, bukan oleh penduduk anak negeri (pribumi). Kaum pendatang biasanya bertindak sebagai penguasa atau pemilik modal, sedangkan penduduk pribumi sebagai buruh atau pekerja. Kondisi ini sudah berakar jauh pada masa penjajahan di mana bangsa Belanda (sebagai kelompok pendatang) menguasai bangsa Indonesia (sebagai penduduk pribumi). Penguasaan ini tidak pada bidang ekonomi ataupun perdagangan, tetapi juga di bidang pertanahan, permodalan, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Masalah sosial seperti ini hendaknya cepat diatasi agar tidak muncul kebencian dan konflik antara kaum pendatang dan warga pribumi (asli).

Gambar 2.33 Paternalisme
Sumber: http://assets.kompas.com/data/photo/2012/05/07/ 2219277620X310.JPG

Proses Interaksi Sosial Disosiatif

Proses interaksi sosial disosiatif adalah proses oposisi (oppositional process) yang berarti tipe berjuang melawan seorang ataupun sekelompok orang untuk meraih tujuan tertentu. Adapun bentuk-­bentuk interaksi sosial yang bersifat disosiatif dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Persaingan (Competition)

Gambar 2.34 Kompetisi
Sumber: https://firmansahate.files.wordpress.com/2010/02/kompetisi.jpg

Persaingan merupakan proses sosial ketika terdapat ke­dua pihak atau lebih saling berlomba melakukan sesuatu untuk mencapai kemenangan tertentu. Persaingan terjadi jikalau beberapa pihak menginginkan sesuatu dengan jumlah yang terbatas ataupun menjadi pusat perhatian umum. Seperti, ribuan remaja bersaing agar masuk jajaran 12 besar penyanyi idola. Persaingan dilakukan atas norma dan nilai yang diakui bersama dan berlaku di masyarakat tersebut. Kemungkinan kecil, persaingan menggunakan kekerasan ataupun ancaman. Jadi, dapat disebut bahwa persaingan dilakukan dengan sehat atau sportif. Persaingan disertai dengan kekerasan, bahaya, atau keinginan untuk merugikan pihak lain, hal ini dinamakan dengan persaingan tak sehat dan bukan lagi disebut dengan persaingan akan tetapi telah menjurus kepada permusuhan atau persengketaan. Hasil dari persaingan harus diterima dengan kepala dingin, tanpa dendam sedikit pun. Mulai dari awal, setiap pihak yang bersaing menyadari akan ada yang menang dan kalah.
a) Macam­-macam contoh persaingan
Berikut ini merupakan beberapa contoh persaingan.
(1) Contoh persaingan pada bidang ekonomi yaitu persaingan antara produsen barang sejenis dalam merebut pasar yang terbatas.
(2) Contoh persaingan dalam sesuatu kedudukan yaitu persaingan untuk menduduki jabatan strategis.
(3) Contoh persaingan dalam hal kebudayaan yaitupersaingan dalam penyebaran ideologi, pendidikan, dan unsur kebudayaan yang lain.
2) Kontravensi

Gambar 2.35 Kontravensi menolak pornografi
Sumber:http://riaumandiri.co/assets/berita/30547758750­tolak­ pornografi.jpg

Kontravensi adalah sikap menentang dengan tersembunyi agar tidak adanya perselisihan (konflik) terbuka. Kontravensi merupakan proses sosial dengan tanda ketidakpastian, keraguan, penolakan, dan penyangkalan dengan tidak diungkapkan secara terbuka. Penyebab kontravensi adalah perbedaan pendirian antara kalangan tertentu dan pendirian kalangan lainnya dalam masyarakat ataupun dapat juga pendirian menyeluruh masyarakat.
Menurut Leopald von Wiese dan Howard Becker, terdapat lima bentuk kontravensi antara lain sebagai berikut:
a) Kontravensi umum, seperti penolakan, keengganan, protes, perlawanan, gangguan, dan
mengancam pihak lawan.
b) Kontravensi sederhana, seperti menyangkal pernyataan orang di depan umum.
c) Kontravensi intensif, seperti penghasutan dan penyebaran desas­desus.
d) Kontravensi rahasia, seperti membocorkan rahasia atau berkhianat.
e) Kontravensi taktis, misalnya mengejutkan kelompok lawan provokasi dan intimidasi.
3) Pertikaian
Pertikaian adalah proses sosial sebagai bentuk lanjut dari kontravensi. Dalam pertikaian, perselisihan sudah bersifat terbuka. Pertikaian terjadi karena adanya perbedaan yang semakin tajam antara kalangan tertentu dalam masyarakat. Kondisi perbedaan yang semakin tajam mengakibatkan amarah dan rasa benci yang mendorong adanya tindakan untuk melukai, menghancurkan, atau menyerang pihak lain. Jadi, pertikaian muncul apabila individu atau kelompok berusaha memenuhi kebutuhan atau tujuannya dengan jalan menentang pihak lain lewat ancaman atau kekerasan.
4) Pertentangan atau konflik (conflict)

Gambar 3.36 Pertentangan
Sumber: https://zaldym.files.wordpress.com/2009/012peodic newf.jpg

Pertentangan atau konflik adalah suatu perjuangan individu atau kelompok sosial untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan. Konflik biasa terjadi dengan disertai ancaman atau kekerasan. Konflik terjadi karena adanya perbedaan pendapat, perasaan individu, kebudayaan, kepentingan baik kepentingan individu maupun kelompok, dan terjadinya perubahan-­perubahan sosial yang cepat dengan menimbulkan disorganisasi sosial. Perbedaan-­perbedaan ini akan memuncak menjadi pertentangan karena keinginan-­keinginan individu tidak dapat diakomodasikan. Akibatnya, tiap individu atau kelompok berusaha menghancurkan lawan dengan ancaman atau kekerasan.
Pertentangan kebanyakan yang berperan dalam perasaan. Perasaan dapat mempertajam adanya perbedaan sehingga kedua pihak berusaha saling menghancurkan. Contohnya perasaan yang menimbulkan konflik adalah benci, iri dan sentimen. Pertentangan tidak selalu bersifat negatif. Pertentangan menjadi alat untuk menyesuaikan norma­-norma yang telah ada sesuai dengan perkembangan masyarakat. Pertentangan juga menghasilkan suatu kerja sama karena kedua pihak saling introspeksi untuk mengadakan perbaikan-­perbaikan. Contoh dampak positif pertentangan (konflik) adalah perombakan aturan-­aturan yang membatasi hak politik warga negara di masa Orde Baru.

Dampak Interaksi Sosial


Gambar 2.38 Hubungan sosial yang positif
Sumber: https://2.bp.blogspot.com/­QkwZzcOV8_s/VrlXJ­VZjRI/AAAAAAAAAeg/93XI6GEHuEs/s640/Pengertian­dan­Syarat­Terjadinya­Hubungan­Sosial.jpg

Hubungan sosial selalu ada dalam masyarakat dan merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Hubungan sosial ada yang bersifat positif dan ada pula yang bersifat negatif. Hubungan sosial yang positif akan membawa masyarakat dalam kedamaian dan ketenangan dan selanjutnya akan tercipta integrase (persatuan) pada masyarakat tersebut. Sebaliknya, hubungan masyarakat yang bersifat negatif, akan membawa konflik pada masyarakat dan akhirnya akan terjadi perpecahan dalam lapisan masyarakat.

Dampak Positif Interaksi Sosial

Adapun dampak positif dari adanya interaksi sosial, yaitu sebagai berikut:
1) Terpenuhinya kebutuhan individu dan kelompok yang tidak dapat dipenuhi sendiri tanpa adanya interaksi dengan orang lain.
2) Kerja sama manusia yang terus berkembang seiring dengan makin kompleksnya kebutuhan dan situasi masyarakat saat ini.
3) Hubungan sosial antara dua atau lebih kelompok sosial yang berbeda akan terintegrasi lebih kuat karena timbulnya solidaritas dan kesetiakawanan yang tinggi.
4) Individu yang satu dengan individu yang berbeda akan saling kenal.
5) Tercapainya kestabilan antara dua atau lebih kelompok yang bertikai
6) Lahirnya unsur kebudayaan baru dengan tidak menghilangkan atau mengeliminasi kebudayaan asli yang mendukungnya.
7) Terjadinya negosiasi antara pihak­ pihak yang bertikai.

Dampak Negatif Interaksi Sosial

Selain dampak positif, ternyata interaksi sosial juga menimbulkan dampak negatif di antaranya sebagai berikut:
1) Kerusakan dan hilangnya harta benda dan nyawa jika terjadi kontak atau benturan fisik.
2) Persaingan yang tajam akan membuat kontrol sosial tidak berfungsi.
3) Akan menimbulkan prasangka yang memicu terjadinya kerugian bagi orang lain.
4) Aktivitas yang dilakukan akan mengakibatkan terjadinya benturan atau kontak fisik.
5) Menimbulkan rencana atau niat mencelakakan pihak lain.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*