Materi SMP K13 Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas 7 Semester 1 Bab 2 Lembaga Sosial

Lembaga Sosial

Lembaga Sosial-BiarPintar.Com – Seiring dengan pesatnya perkembangan manusia, kehidupan bermasyarakat terus berkembang menjadi makin kompleks. Masyarakat tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan akan makanan, pakaian, dan perumahan, tetapi terdapat banyak kebutuhan lainnya, seperti kebutuhan untuk rekreasi, kebutuhan akan keadilan, kebutuhan akan keamanan, kebutuhan akan pendidikan, dan lain­ lain. Pemanfaatan sumber daya alam pun makin meningkat.

Dalam pemenuhan kebutuhan manusia, diperlukan suatu lembaga sebagai pengatur pemenuhan berbagai jenis kebutuhan manusia. Jika tidak, kehidupan masyarakat akan sulit terkendali dan timbul kekacauan, ketidakmerataan, dan lain­ lain. Oleh karena itu, kalian patut menghargai berbagai lembaga sosial yang ada karena memiliki peran dan fungsi masing­masing dalam mengatur kehidupan masyarakat.

Pengertian Lembaga Sosial

Lembaga sosial adalah setiap lembaga yang dibuat maupun dibentuk dengan dasar tujuan yang mulia demi kepentingan masyarakat. Lembaga sosial merupakan lembaga yang berjalan tanpa mengharapkan keuntungan maupun materi.

Selain itu, Lembaga sosial dapat juga diartikan sebagai suatu lembaga yang mempunyai tujuan dalam rangka memperlancar dan juga mempermudah berbagai aspek kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Dapat disimpulkan bahwa setiap lembaga maupun organisasi baik bersifat resmi maupun yang tidak resmi yang diciptakan atau dibuat atas landasan sosial serta mempunyai tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam masyarakat.

Dapat dijelaskan bawah lembaga sosial mempunyai banyak peran diantaranya sebagai lembaga pembentuk, pemersatu, pendidik, penghukum, pemerintah, dan juga sekaligus pengayom masyarakat.

Pengertian Lembaga Sosial Menurut Para Ahli

Harton dan Hunt menyatakan lembaga sosial bukanlah sebuah bangunan, bukan kumpulan dari sekelompok orang, dan bukan sebuah organisasi, melainkan adalah suatu sistem norma untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan yang oleh masyarakat dipandang penting atau secara formal, sekumpulan kebiasaan dan tata kelakuan yang berkisar pada suatu kegiatan pokok manusia. Dengan demikian, lembaga sosial adalah proses yang terstruktur (tersusun) untuk melaksanakan berbagai kegiatan tertentu.

Pengertian lembaga sosial juga diungkapkan beberapa ahli sosiologi, antara lain sebagai berikut:
a. Mac Iver dan Page menyatakan lembaga sosial ialah tata cara atau prosedur yang telah diciptakan untuk mengatur hubungan antar manusia yang berkelompok dalam suatu kelompok kemasyarakatan yang dinamakan asosiasi.
b. Kornblum menyatakan bahwa lembaga sosial sebagai suatu struktur status dan peran yang diarahkan ke pemenuhan keperluan dasar anggota masyarakat
c. Koentjaroningrat memberi batasan yang dimaksud dengan pranata sosial adalah sistem yang menjadi wahana yang memungkinkan warga masyarakat itu untuk berinteraksi menurut pola resmi atau suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat pada aktivitas untuk memenuhi kebutuhan kompleks khusus dalam kehidupan manusia.
d. Leopold Von Wiese dan Becker menyatakan lembaga sosial adalah jaringan proses hubungan antar manusia dan antar kelompok yang berfungsi memelihara hubungan itu beserta pola­-polanya yang sesuai dengan minat kepentingan individu dan kelompoknya.
e. Paul B Horton dan Chester L Hunt menyatakan lembaga sosial adalah sistem untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan masyarakat dipandang penting, atau sekumpulan kebiasaan dan tata kelakuan pada kegiatan pokok manusia.
f. Summer menyatakan lembaga sosial merupakan perbuatan, sikap, cita­-cita, dan perlengkapan kebudayaan, bersifat kekal serta bertujuan untuk memenuhi kebutuhan­ kebutuhan masyarakat.
g. Soerjono Soekanto menyatakan pranata sosial adalah himpunan norma­-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat.
lembaga sosial img norma masyarakat
Gambar 2.49 Norma yang mengatur masyarakat
Sumber: https://encrypted­tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS7 B6NTFV0jKxtsbFI5Qg1vN7RJSdPK8fWrZQ­cBohici2L1OSMXQ

Jenis-jenis Lembaga Sosial

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa lembaga sosial adalah suatu proses terstruktur untuk melaksanakan berbagai kegiatan tertentu dalam suatu kelompok masyarakat. Dalam masyarakat Indonesia yang heterogen, terdapat berbagai jenis lembaga sosial yang satu dan lain saling berhubungan dan saling melengkapi. Lembaga­ lembaga sosial tersebut adalah keluarga, lembaga agama, lembaga ekonomi, lembaga pendidikan, lembaga budaya, dan lembaga politik.

Lembaga Keluarga

lembaga sosial img keluarga
Gambar 2.50 Keluarga
Sumber:http://image­serve.hipwee.com/wp­content/uploads/2015/01/asian­family­750×500.jpg

Keluarga merupakan unit sosial yang terkecil dalam masyarakat yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak-­anaknya. Dalam keluarga, diatur hubungan antar anggota keluarga sehingga anggota keluarga mempunyai peran dan fungsi masing­-masing. Keluarga terbentuk dari sebuah perkawinan yang sah menurut agama, adat, dan pemerintah. Konsep keluarga yang umumnya terdiri atas orang tua dan anak saja, saat ini mulai bergeser. Keluarga dapat pula terdiri atas anggota-­anggota yang lebih luas, yakni kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, dan cucu. Selain itu, anggota-­anggota keluarga tidak harus terikat pada garis keturunan maupun hubungan darah yang sama. Banyak orang yang melakukan adopsi anak, bahkan keluarga yang tidak terikat pernikahan sekalipun, menyebut diri mereka keluarga. Selain konsepnya yang berubah, proses sosialisasi yang terjadi kepada anak, kegiatan dalam keluarga, dan peranan tiap anggota keluarga juga mulai bergeser jika dibandingkan dengan masa sebelumnya.

Pada waktu dulu, hubungan antara anak dan orang tua lebih terlihat dengan jelas. Oleh karena usia dan peranan yang sangat berbeda, seorang anak harus lebih hormat kepada orangtua mereka. Anak-anak harus membantu pekerjaan rumah tangga orang tuanya. Pada masa sekarang, hal itu sudah tidak menjadi perhatian utama. Pada waktu dulu, seorang anak pada usia 10– 15 tahun sudah diberikan tanggung jawab yang besar untuk membantu orangtuanya. Sekarang, anak usia tersebut memang juga dituntut mandiri, namun dengan cara yang lain. Contohnya, anak mandiri dalam melakukan kegiatan di sekolah dan menyelesaikan masalah pribadinya. Pada umumnya keluarga terbentuk melalui perkawinan yang sah menurut agama, adat atau pemerintah.
1) Karakteristik Keluarga Menurut Mac Iver dan Charlen Horton
Ada beberapa karakteristik keluarga seperti yang diungkap oleh Mac Iver dan Charlen Horton yaitu sebagai berikut:
a) Merupakan hubungan perkawinan.
b) Bentuk suatu kelembagaan yang berkaitan dengan hubungan perkawinan yang dibentuk atau dipelihara.
c) Mempunyai suatu sistem tata nama (nomenclatur), termasuk perhitungan garis keturunan.
d) Mempunyai fungsi ekonomi yang dibentuk oleh anggotanya.
e) Merupakan tempat tinggal bersama, rumah maupun rumah tangga.

2) Ciri-ciri Keluarga
Keluarga merupakan gemeinscaft yang di dalamnya terdapat ciri kelompok primer, yaitu sebagai berikut:
a) Antar anggota mempunyai hubungan yang intim dan hangat.
b) Kooperatif.
c) Face to face.
d) Anggota keluarga memberlakukan anggota yang lain sebagai tujuan bukan alat untuk mencapai tujuan.

3) Proses Terbentuknya Keluarga
Keluarga adalah satuan sosial yang terkecil dalam masyarakat dan juga lembaga pertama yang dimiliki oleh seseorang setelah dilahirkan. Dalam lembaga keluarga ini, pertama kali seseorang belajar mengenai sosialisasi.
Proses terbentuknya keluarga pada umumnya dimulai dari hubungan antara seorang laki-­laki dan perempuan. Keluarga terbentuk melalui ikatan yang sah antara laki­-laki dan perempuan menurut agama, adat atau pemerintah dengan beberapa proses seperti berikut:
a) Tahap formatif atau preneptual, masa persiapan sebelum perkawinan yang meliputi peminangan atau pertunangan.
b) Tahap perkawinan atau nuptual stage, yaitu ketika dilangsungkannya perkawinan dan sesudahnya, tetapi sebelum melahirkan anak­-anak.
c) Tahap pemeliharaan anak­-anak atau child rearing stage yaitu keluarga dengan anak-­anak hasil perkawinan.
lembaga sosial img tahap pemeliharaan anak
Gambar 2.51 Tahap pemeliharaan anak
Sumber:http://www.covesia.com/photos/berita/2507150 11832_ternyata­mengganti­popok­bantu­dekatkan.jpeg

d) Tahap keluarga dewasa atau maturity stage yaitu suatu keluarga dengan anak­-anak yang telah mampu berdiri sendiri dan membentuk keluarga baru. Menurut UU No 1 Tahun 1974, perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Perkawinan harus didasarkan persetujuan kedua calon mempelai, keduanya sebaiknya sudah berusia 21 tahun ke atas.

4) Fungsi dan Peran Lembaga Keluarga
Fungsi dan peran lembaga keluarga menurut Horton dan Hunt, antara lain sebagai berikut:
a) Fungsi reproduksi artinya dalam keluarga, anak­-anak merupakan wujud dari cinta kasih dan tanggung jawab suami istri meneruskan keturunannya.
b) Fungsi sosialisasi artinya bahwa keluarga berperan dalam membentuk kepribadian anak agar sesuai dengan harapan orang tua dan masyarakatnya. Keluarga sebagai wahana sosialisasi primer harus mampu menerapkan nilai dan norma masyarakat melalui keteladanan orang tua.
c) Fungsi afeksi artinya di dalam keluarga diperlukan kehangatan rasa kasih sayang dan perhatian antar anggota keluarga yang merupakan salah satu kebutuhan manusia sebagai makhluk berpikir dan bermoral (kebutuhan integratif) apabila anak kurang atau tidak mendapatkannya, kemungkinan anak sulit untuk dikendalikan (nakal), bahkan dapat terjerumus ke dalam kejahatan.
d) Fungsi ekonomi artinya bahwa keluarga terutama orang tua mempunyai kewajiban ekonomi seluruh keluarganya. Ibu sebagai bendahara suami di dalam keluarga harus mampu mengolah keuangan sehingga kebutuhan dalam rumah tangganya dapat dicukupi.
e) Fungsi pengawasan sosial artinya bahwa setiap anggota keluarga pada dasarnya saling melakukan kontrol atau pengawasan karena mereka memiliki rasa tanggung jawab dalam menjaga nama baik keluarga.
f) Fungsi proteksi (perlindungan) artinya fungsi perlindungan sangat diperlukan keluarga terutama anak, sehingga anak akan merasa aman hidup di tengah-­tengah keluarganya. Anak akan merasa terlindungi dari berbagai ancaman fisik maupun mental yang datang dari dalam keluarga maupun dari luar keluarganya.
g) Fungsi pemberian status artinya bahwa melalui perkawinan seseorang akan mendapatkan status atau kedudukan yang baru di masyarakat yaitu suami atau istri. Secara otomatis, mereka akan diperlakukan sebagai orang yang telah dewasa dan mampu bertanggung jawab kepada diri, keluarga, anak-­anak, dan masyarakatnya.
Fungsi latennya adalah meneruskan gelar kebangsawanan. Adapun peran keluarga adalah dasar pembantu utama struktur sosial yang lebih luas. Jadi, peran keluarga adalah wadah pembentukan tingkah laku masyarakat, termasuk dalam saluran penerus tradisi/ budaya dalam masyarakat.
lembaga sosial img sosialisasi keluarga
Gambar 2.52 Sosialisasi keluarga
Sumber: https://wahyuwidiana.files.wordpress.com/2009/03/p1010830.jpg

Lembaga Pendidikan

lembaga sosial img lembaga pendidikan
Gambar 2.53 Lembaga pendidikan
Sumber:https://image.slidesharecdn.com/olp­141101075348­conversion­ gate01/95/organisasi­lembaga­pendidikan­1­638.jpg?cb=1414828548

Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
1) Fungsi Lembaga Pendidikan
Lembaga pendidikan adalah lembaga atau tempat berlangsungnya proses pendidikan yang dilakukan dengan tujuan untuk mengubah tingkah laku individu ke arah yang lebih baik melalui interaksi dengan lingkungan sekitar. Lembaga pendidikan merupakan lembaga yang bergerak dan bertanggung jawab atas terselenggaranya pendidikan terhadap anak didik. Fungsi lembaga pendidikan adalah sebagai berikut:
a) Mengurangi pengendalian orang tua
Melalui pendidikan sekolah, orangtua melimpahkan tugas dan wewenangnya dalam mendidik anak kepada sekolah.
b) Menyediakan sarana untuk pembangkangan
Sekolah memiliki potensi untuk menanamkan nilai pembangkangan di masyarakat. Hal ini tercermin dengan adanya perbedaan pandangan antara sekolah dan masyarakat tentang sesuatu hal, misalnya pendidikan seks dan sikap terbuka.
lembaga sosial img pendidikan sekolah
Gambar 2.54 Pendidikan sekolah
Sumber:http://indonesiana.tempo.co/uploads/foto/2016/ 12/13/pelajar­sekolah­dasar.jpg

c) Mempertahankan sistem kelas sosial
Pendidikan sekolah diharapkan dapat mensosialisasikan kepada para anak didiknya untuk menerima perbedaan prestise, previlese, dan status yang ada dalam masyarakat. Sekolah juga diharapkan menjadi saluran mobilitas siswa ke status sosial yang lebih tinggi atau paling tidak sesuai dengan status orang tuanya.
d) Memperpanjang masa remaja
Pendidikan sekolah dapat pula memperlambat masa dewasa seseorang karena siswa masih tergantung secara ekonomi dari orangtuanya.

2) Jenis-jenis Lembaga Pendidikan
Jenis-­jenis lembaga pendidikan meliputi pendidikan formal, nonformal, dan informal. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar jalur pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.
a) Pendidikan Formal (Lembaga Pendidikan Sekolah)
Pendidikan formal merupakan pendidikan di sekolah yang diperoleh secara teratur, sistematis, bertingkat, dan dengan mengikuti syarat-­syarat yang jelas. Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah yang lahir dan berkembang secara efektif dan efisien dari dan oleh serta untuk masyarakat, merupakan perangkat yang berkewajiban memberikan pelayanan kepada generasi muda dalam mendidik warga negara. Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sementara itu, jenis pendidikan formal terdiri atas pendidikan umum, kejuruan profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus.
lembaga sosial img pendidikan formal
Gambar 2.55 Pendidikan formal
Sumber: http://homeschoolingalam.com/foto_berita/90WhatsApp%20Image%202017­02­14%20at% 2010.25.05.jpeg

b) Lembaga Pendidikan di Masyarakat
lembaga sosial img pendidikan nonformal
Gambar 2.56 Pendidikan nonformal
Sumber: http://photo.kontan.co.id/photo/2011/02/25/1332992811p.jpg

Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Satuan pendidikannya terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar, majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Hasil dari pendidikan nonformal ini dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu standar nasional pendidikan.
c) Pendidikan Informal (Lembaga Pendidikan Keluarga)
Kegiatan pendidikan keluarga disebut juga lembaga pendidikan informal. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama karena dalam keluarga inilah anak pertama­-tama mendapatkan didikan dan bimbingan. Pendidikan keluarga juga dikatakan lingkungan yang utama karena sebagian besar dari kehidupan anak berada dalam lingkungan keluarga.
lembaga sosial img pendidikan informal
Gambar 2.57 Pendidikan informal
Sumber: http://4.bp.blogspot.com/­w2tGlzMTqvc/ VqiGVrNDhbI/AAAAAAAABno/j1AGO9CuywE/s1600/ 2016011310265089859.jpg

Lembaga Ekonomi

lembaga sosial img aktivitas koperasi
Gambar 2.58 Aktivitas koperasi
Sumber: https://sdnpenundan.files.wordpress.com/2012/09/kantor­ koperasi.jpg

Lembaga ekonomi merupakan lembaga yang menangani masalah kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa yang diperlukan bagi kelangsungan hidup bermasyarakat. Lembaga ekonomi lahir sebagai suatu usaha manusia menyesuaikan diri dengan alam untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka yang berkaitan dengan pengaturan dalam bidang­ bidang ekonomi dalam rangka mencapai kehidupan yang sejahtera. Pasal 33 UUD 1945 menyatakan ada tiga lembaga perekonomian di Indonesia,yaitu koperasi, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Swasta (BUMS). Koperasi adalah lembaga ekonomi yang berwatak sosial, sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. BUMN adalah jenis bidang usaha dan produksi yang langsung diusahakan dan dikelola oleh negara. BUMS adalah jenis bidang usaha dan produksi yang langsung diusahakan dan dikelola oleh masyarakat atau swasta.
1) Tipe Sistem Ekonomi
Terdapat beberapa tipe sistem ekonomi di dunia, yaitu sebagai berikut:
a) Tipe ekonomi campuran yaitu gabungan antara sistem kapitalis dan sosialis.
b) Tipe ekonomi komunis yaitu dipimpin oleh partai tunggal.
c) Sistem ekonomi masyarakat fasis yaitu masyarakat yang dipimpin oleh suatu partai diktaktor yang diorganisasi oleh seorang pimpinan yang kharismatik.
d) Sistem ekonomi Indonesia bertumpu Pasal 33 UUD 1945.

2) Fungsi Lembaga Ekonomi
Lembaga ekonomi pada hakikatnya bertujuan hendak memenuhi kebutuhan pokok untuk berlangsungnya hidup masyarakat. Lembaga ekonomi juga memiliki fungsi sebagai berikut:
a) Memberi pedoman untuk mendapatkan bahan pangan.
b) Memberikan pedoman untuk melakukan pertukaran barang atau barter.
c) Memberi pedoman tentang harga jual beli barang.
d) Memberi pedoman untuk menggunakan tenaga kerja.
e) Memberikan pedoman tentang cara pengupahan.
f) Memberikan pedoman tentang cara pemutusan hubungan kerja.
g) Memberi identitas bagi masyarakat.
lembaga sosial img fungsi lembaga ekonomi
Gambar 2.59 Fungsi lembaga ekonomi
Sumber: http://4.bp.blogspot.com/­bMzYj5br_P8/VQvsDkRXRAI/AAAAAAAAALk/Z0TcalncBjM/s1600/ekonomi.jpg

3) Klasifikasi Lembaga Ekonomi
Secara sederhana, lembaga ekonomi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a) Sektor agraris yang meliputi sektor pertanian, seperti sawah, perladangan, perikanan, dan peternakan. Gathering (pengumpulan) yaitu proses pengumpulan barang atau sumber daya alam dari lingkungannya.
b) Sektor industri ditandai dengan kegiatan produksi barang (production).
c) Sektor perdagangan merupakan aktivitas penyaluran barang dari produsen ke konsumen (distributing) yaitu proses pembagian barang dan komoditas kepada subsistem­-subsistem lainnya.

4) Unsur-unsur Lembaga Ekonomi
Beberapa unsur lembaga ekonomi, antara lain sebagai berikut:
a) Pola perilaku: efisiensi, penghematan, profesionalisme, dan mencari keuntungan.
b) Budaya simbolis: merek dagang, hak paten, slogan, dan lagu komersial.
c) Budaya manfaat: pabrik, pasar, kantor, blangko, dan formulir.
d) Kode spesialisasi: kontrak, lesensi, kontrak monopoli, dan akte perusahaan.
e) Ideologi: liberalisme, tanggung jawab, manajerial, kebebasan berusaha,dan hak buruh.

5) Tiga Unsur Kegiatan Lembaga Ekonomi
Terdapat tiga unsur penting dalam kegiatan lembaga ekonomi. Perhatikan penjelasan berikut.
a) Kegiatan Produksi
Kegiatan produksi merupakan kegiatan pertama kali yang dilakukan pada proses kegiatan ekonomi. Kegiatan produksi adalah kegiatan untuk menghasilkan suatu barang atau jasa yang diperlukan oleh konsumen, dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan.

Gambar 2.60 Kegiatan produksi
Sumber: https://s3­ap­southeast­1.amazonaws.com/ swa.co.id/wp­content/uploads/2014/08/Sampoernarokok.jpg

Berikut beberapa kegiatan ekonomi produksi yang dapat menghasilkan barang atau jasa dalam kehidupan masyarakat.
(1) Kegiatan ekstraktif, yaitu kegiatan produksi yang dilakukan dengan mengambil secara langsung dari alam, tanpa mengubah bentuk dan sifat dari barang tesebut.
(2) Kegiatan agraris, merupakan kegiatan produksi dengan cara mengolah tanah untuk ditanami tanaman yang nantinya akan menghasilkan sesuatu yang berupa buah, daun, batang dan sebagainya. Hasil dari tanaman tersebut pada umumnya disebut dengan panen yang diambil dalam periode tertentu.
(3) Kegiatan industri, yaitu kegiatan produksi yang mengolah bahan mentah atau bahan baku menjadi barang jadi atau setengah jadi. Proses industri ini pada umumnya dikerjakan di pabrik.
(4) Kegiatan perdagangan, yaitu kegiatan yang bergerak dalam penjualan barang atau jasa dengan mengambil keuntungan.
(5) Kegiatan jasa, yaitu produksi yang menyediakan layanan yang dibutuhkan oleh konsumen yang tidak berbentuk barang.

b) Kegiatan Distribusi
Distribusi merupakan kegiatan menyalurkan barang yang menjadi hasil produksi kepada pembeli atau konsumen akhir. Pihak yang mendistribusikan barang biasanya disebut dengan agen atau sering disebut juga dengan penyalur barang. Distribusi barang ini pada umumnya dilakukan dengan kegiatan perdagangan. Kegiatan perdagangan pada umumnya dilakukan oleh agen­-agen, distributor resmi atau penjual grosir.

Gambar 2.61 Kegiatan distribusi
Sumber: http://3.bp.blogspot.com/­9uwJ_3GbIks/ VXTqPLNJ_qI/AAAAAAAABPs/aCVVA5ygCdo/s1600/distribusi.JPG

c) Kegiatan Konsumsi
Konsumen atau pembeli yaitu orang yang memakai produk atau jasa yang diperjualbelikan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup atau kebutuhan sehari­-harinya.
Setelah kita mengetahui unsur-­unsur apa saja yang penting dalam kegiatan ekonomi, perlu dipahami juga mengenai beberapa fungsi dari lembaga ekonomi, antara lain sebagai berikut:
(1) Memberikan pedoman untuk mendapatkan bahan-­bahan pangan.
(2) Memberikan pedoman untuk barter dan jual­ beli barang dan jasa.
(3) Memberikan pedoman untuk menggunakan pegawai atau tenaga kerja dan cara pengupahan.
(4) Memberikan pedoman tentang bagaimana cara pemutusan hubungan kerja secara baik dan benar.
(5) Memberikan identitas diri untuk masyarakat.

Lembaga Politik

Lembaga politik sudah ada pada masyarakat yang sederhana meskipun sistemnya berbeda dengan masyarakat yang kompleks. Politik menetapkan kepemimpinan agar tetap berjalan. Setiap masyarakat harus mempunyai sistem kepemimpinan. Beberapa orang harus mempunyai kekuasaan atas orang lain.

Gambar 2.62 Sidang DPR
Sumber: http://4.bp.blogspot.com/­bIi1DFroJ3I/VeGMxRZIe0I/AAAAAAAABVo/YZ7pyW 7­ 8A8/s16 00/11902 591_ 722525497848278_6292205746722360151_n.jpg

Lembaga politik berkaitan dengan kehidupan politik, yakni menyangkut tujuan dari keseluruhan masyarakat agar tercapai suatu keteraturan dan tata tertib kehidupan. Kehidupan politik ini mulai dari tingkat terkecil seperti RT atau RW sampai dengan lingkungan yang lebih luas, yaitu bangsa dan negara. Adapun yang diatur dan dikendalikan dalam kehidupan masyarakat adalah mengenai kepentingan-­kepentingan warga masyarakat itu sendiri, sehingga terjadi sebuah keteraturan. Guna dapat mengatur kepentingan diperlukan suatu kebijaksanaan tertentu. Dalam rangka melaksanakan kebijaksanaan­-kebijaksanaan lembaga memerlukan kekuasaan dan wewenang. Kehidupan politik tidak akan terlepas dari sistem pengaturan, pembagian, dan pengukuhan kekuasaan dan wewenang dalam masyarakat.
1) Terbentuknya Suatu Bangsa
Institusi atau lembaga politik memposisikan diri sebagai seperangkat norma dan status yang mengkhususkan diri pada pelaksanaan kekuasaan dan wewenang. Terbentuknya suatu lembaga politik dalam arti terbentuknya suatu nation (bangsa) dalam suatu negara sebagai berikut:
a) Mengadakan kegiatan dan proyek yang dapat menjawab keinginan warga masyarakat.
b) Menekan adanya persamaan nilai, norma atau sejarah melalui pengajaran di sekolah, media massa.
c) Pembentukan tentara nasional dari suatu negara merdeka dengan partisipasi semua golongan yang ada dalam masyarakat.
d) Mengadakan upacara pada kesempatan tertentu.

2) Tiga Jenis Dominasi
Menurut Weber, dominasi dibagi menjadi tiga jenis, yaitu sebagai berikut:
a) Dominasi kharismatik yang didasarkan oleh kewibawaan atau kharisma seseorang.
b) Dominasi tradisional didasarkan oleh tradisi dan keturunan.
c) Dominasi legal rasional yaitu didasarkan kepada aturan hukum yang dibuat dengan sengaja atas dasar pertimbangan rasional.

3) Fungsi Lembaga Politik
Lembaga politik mempunyai fungsi umum sebagai berikut:
a) Menghubungkan antara kekuasaan dan warga masyarakat sehingga keteraturan tertib sosial terpelihara.
b) Menangani masalah administrasi dan tata tertib umum demi terciptanya keamanan dan ketenteraman masyarakat.
Adapun yang ditertibkan adalah kepentingan­-kepentingan dari warga masyarakat itu sendiri sehingga tidak terjadi benturan antara kepentingan antar individu maupun kelompok. Untuk melaksanakan suatu kebijakan suatu lembaga memerlukan kekuasaan dan kewenangan sehingga kehidupan politik tidak lepas dari sistem pengaturan pembagian kekuasaan dan kewenangan. Pembagian kekuasaan dan kewenangan di negara Indonesia dibagi menjadi kekuasaan legislatif, kekuasaan yudikatif, dan kekuasaan eksekutif.

4) Wujud Nyata Lembaga Politik
Sebagai wujud nyata atau pelaksana dari kekuasaan, lembaga politik mempunyai fungsi sebagai berikut:
a) Melembagakan norma melalui undang­-undang yang disampaikan oleh badan legislatif.
b) Melaksanakan undang­-undang yang telah disetujui.
c) Menyelesaikan konflik yang terjadi di antara para warga masyarakat sehubungan dengan kepentingan tertentu dari warga masyarakat yang bersangkutan.
d) Menyelenggarakan pelayanan, seperti perawatan kesehatan, pendidikan, kesejahteraan dan seterusnya.
e) Melindungi para warga masyarakat atau warga negara dari serangan bangsa.
f) Memelihara kesiap-siagaan atau kewaspadaan dalam menghadapi bahaya.

Lembaga Agama


Gambar 2.63 Lembaga agama Islam
Sumber: https://mui.or.id/wp­content/uploads/2017/02/KUII­VI­Perkokoh­Peran­Politik­Ekonomi­dan­Sosbud­Umat­Islam.jpg

Lembaga agama adalah lembaga yang mengatur kehidupan manusia dalam kaitannya dengan kehidupan keagamaan. Semua agama sama-­sama memisahkan antara baik dan buruk, yang dibolehkan dan yang dilarang, atau kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Ukuran baik dan buruk atau terlarang telah dirumuskan dalam ajarannya.

Ajaran agama sangat berperan dalam memperbaiki moral manusia, terutama yang terkait dengan hubungan antara sesama manusia, hubungan antara manusia dengan makhluk lain, dan hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Pesan-­pesan moral yang diajarkan dalam agama dan juga kuatnya pengaruh agama dalam kehidupan manusia telah membuat agama memiliki hubungan yang sangat erat dengan lembaga­-lembaga sosial lainnya.

Sebelum masuknya agama­-agama besar dunia ke Indonesia, masyarakat Indonesia sudah mengenal Tuhan dan menjunjung tinggi prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa. Pada masa Hindu-­Buddha, konsep agama diterima secara baik dan ikut memperkaya khazanah kehidupan beragama di Nusantara karena tidak sama persis dengan kehidupan beragama di India. Keberadaan berbagai agama di Indonesia menunjukkan bahwa kehidupan beragama cukup dinamis. Hal ini juga didukung adanya lembaga keagamaan. Lembaga keagamaan adalah organisasi yang dibentuk oleh umat beragama dengan maksud demi kemajuan kepentingan keagamaan umat di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup keagamaan setiap umat beragama.
1) Macam-macam Lembaga Keagamaan di Indonesia

Gambar 2.64 Lembaga agama Kristen
Sumber: https://papua2.kemenag.go.id/files/papua/file/foto/18485.jpg

Setiap agama di Indonesia memiliki lembaga keagamaan, yaitu sebagai berikut:
a) Islam: Majelis Ulama Indonesia (MUI).
b) Kristen: Persekutuan Gereja­Gereja Indonesia (PGI).
c) Katolik: Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI).
d) Hindu: Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).
e) Buddha: Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi).
f) Khonghucu: Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin).

2) Fungsi Manifest Lembaga Agama
Ajaran­-ajaran agama telah memberikan landasan yang kuat dalam tata kehidupan keluarga, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan sosial lainnya. Dalam hubungan dengan uraian tersebut, Borton dan Hunt menjelaskan tentang dua fungsi agama, yakni fungsi manifest dan fungsi laten. Fungsi manifest agama meliputi tiga hal, yaitu sebagai berikut:
a) Adanya pola-­pola keyakinan (doktrin) yang menentukan sifat hubungan, baik antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa maupun hubungan antara sesama manusia.
b) Adanya upacara ritual yang melambangkan suatu pola keyakinan (doktrin) dan mengingatkan manusia terhadap keberadaan pola keyakinan (doktrin) tersebut.
c) Adanya pola perilaku umat yang konsisten dengan ajaran-­ajaran yang diyakini.

3) Fungsi Laten Lembaga Agama
Selain fungsi manifest (fungsi yang tampak secara nyata) agama juga menyimpan fungsi laten, yakni fungsi yang bersifat tersembunyi. Fungsi laten lembaga agama atau fungsi tersembunyi dari agama dapat diperhatikan pada beberapa hal sebagai berikut:
a) Tempat peribadatan, selain berfungsi sebagai tempat untuk melakukan kegiatan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, tempat peribadatan berfungsi sebagai tempat untuk saling bertemu dan saling berkomunikasi antara sesama umat beragama. Contohnya Masjid selain digunakan sebagai tempat salat bagi umat Islam, juga digunakan sebagai tempat untuk melaksanakan pengajian umum, musyawarah, berdiskusi, dan lain sebagainya.
b) Semangat manusia untuk dapat melaksanakan ajaran agama secara baik telah menumbuh kembangkan semangat lain dalam berbagai bidang kehidupan. Misalnya semangat untuk dapat melakukan ibadah haji bagi umat Islam telah menumbuhkan semangat kerja yang tinggi sehingga dicapai pula prestasi ekonomi yang tinggi.
c) Semangat untuk mengembangkan ajaran agama telah memacu semangat untuk mengembangkan strategi dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti melakukan kegiatan dakwah melalui internet, radio, televisi, dan lain sebagainya.

Gambar 2.65 Lembaga agama Hindu
Sumber: https://encrypted­tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSfDEWVRaa9iQmE_eJJr2DGKYPXshZv6yJti CguG3_xWShGl92B

Ciri Lembaga Sosial

Lembaga sosial memiliki sejumlah ciri atau karakteristik. Ciri umum lembaga sosial adalah sebagai berikut:
a. Lembaga sosial memiliki kekekalan tertentu yang biasanya berlangsung lama. Hal ini terjadi karena adanya anggapan orang bahwa lembaga sosial berisi sekumpulan norma yang harus dipertahankan. Norma tersebut sangat dibutuhkan untuk mengatur kehidupan atau hubungan antar manusia, misalnya dalam keluarga.
b. Lembaga sosial memiliki satu atau beberapa tujuan tertentu, misalnya lembaga pendidikan bertujuan untuk mentransfer nilai, norma,dan ilmu pengetahuan kepada generasi berikutnya.
c. Lembaga sosial memiliki alat atau perangkat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, misalnya lembaga politik memiliki bendera atau lambang, lembaga ekonomi memiliki uang sebagai alat tukar, dan lain­-lain.

Gambar 2.48 Lembaga sosial
Sumber: http://restorasinews.com/content/upload/Puspelkessos­Aceh.jpg

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*