Materi SMP K13 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 7 Semester 1 Bab 1 Iman Kepada Allah

Iman Kepada Allah


Iman Kepada Allah-BiarPintar.com – Setiap pribadi seseorang tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Iman seseorang juga berbeda­ beda. Iman kepada Allah SWT merupakan hal yang paling utama dalam rukun iman. Iman kepada Allah SWT merupakan pondasi agama Islam.

Iman secara bahasa artinya percaya. Menurut istilah, iman merupakan membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, serta mengamalkan dengan perbuatan. Kata iman berasal dari bahasa Arab yang artinya percaya.

iman kepada allah img1_1
Artinya: Rasulullah saw bersabda: “Iman adalah membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan,dan mengamalkan dalam perbuatan”(HR.Ibnu Majah)

Iman kepada Allah yaitu membenarkan dengan hati bahwa Allah benar­-benar ada dengan segala sifat kesempurnaan-­Nya, mengikrarkan dengan lisan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (kalimat syahadat), serta mengamalkan apa yang diperintahkan-­Nya dan menjauhi larangan-­Nya.

Pengertian Iman Kepada Allah SWT

Iman artinya percaya. Jadi, iman kepada Allah berarti membenarkan dengan hati bahwa Allah itu ada dengan segala sifat keagungan-­Nya, mengucapkan dengan lisan adanya Allah SWT, dan mengerjakan segala hal yang menjadi perintah-­Nya serta menjauhi segala larangan­-Nya.

Perintah beriman kepada Allah SWT terdapat dalam Q.S. An­Nisa’ayat 136

Artinya: “Wahai orang­-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul­-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-­Nya (Muhammad) serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat­-malaikat-­Nya, kitab-­kitab-­Nya, rasul-­rasul-­Nya,dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh­jauhnya.” (Q.S.An­Nisa’:136)

Secara bahasa iman berarti tashdiq (membenarkan). menurut istilah syar’i, iman adalah “Keyakinan dalam hati, Perkataan pada lisan, amalan dengan anggota badan, bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan maksiat”.

Dapat disimpulkan bahwa iman memiliki 5 karakter fundamental yaitu :
• Keyakinan hati
• Perkataan lisan
• Amal perbuatan
• Bisa bertambah
• Bisa berkurang.

Makna bertambah dan berkurangnya iman seperti yang ditanyakan oleh putra Imam Ahmad yaitu Shalih rahimahullahu. Shalih rahimahullahu berkata: “Aku bertanya kepada ayahku, apa itu makna bertambah dan berkurangnya iman?”. Beliau menjawab: “Bertambahnya iman adalah dengan adanya amalan, berkurangnya adalah dengan meninggalkan amalan, seperti meninggalkan shalat, zakat, puasa, dan haji.”

Adapun pembuktian adanya Allah SWT dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu sebagai berikut.
a. Dalil aqli, yaitu dalil yang berdasarkan akal manusia untuk menerima secara logis tentang eksistensi (keberadaan) Allah SWT. Contohnya melihat semua yang ada di alam semesta merupakan ciptaan Allah SWT.
b. Dalil naqli, yaitu dalil yang berdasarkan kebenaran Al­Qur’an dan hadis untuk menerima secara yakin akan keberadaan Allah SWT. Contohnya meyakini Al­Qur’an dan hadis Nabi Muhammad saw.

Seseorang tidak dikatakan beriman kepada Allah hingga dia mengimani 4 hal:
– Mengimani keberadaan Allah.
– Mengimani rububiah Allah, bahwa tidak ada yang mencipta, menguasai, dan mengatur alam semesta kecuali Allah.
– Mengimani uluhiah Allah, bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengingkari semua sembahan selain Allah Ta’ala.
– Mengimani semua nama dan sifat Allah (al-Asma’ul Husna) yang Allah telah tetapkan untuk diri-Nya dan yang nabi-Nya tetapkan untuk Allah, serta menjauhi sikap menghilangkan makna, memalingkan makna, mempertanyakan, dan menyerupakanNya.

Sifat-sifat Allah

Sebagai hamba yang beriman kepada Allah SWT, kita perlu mengetahui sifat-sifat wajib dan sifat mustahil yang dimiliki Allah SWT., insyaAllah akan menambah keimanan kita terhadap kesempurnaan Allah yang tak terbatas.
Disini hanya akan dibahas beberapa sifat wajib bagi Allah SWT, kita dapat menggali informasi tentang sifat-sifat wajib dan mustahil yang dimiliki Allah SWT lebih lengkap di wikipedia .

Sifat Wajib Bagi Allah

Setelah memahami pengertian dari Iman kepada Allah kita juga harus memahami sifat wajib bagi Allah, yaitu :

Sifat Wujud

Kita menyadari bahwa Allah SWT itu ada dengan cara melihat lingkungan alam sekitar. Adanya semua benda di bumi pasti ada yang menciptakan yaitu Allah SWT.

Sifat Qidam

Artinya adalah terdahulu, Allah adalah sang maha pencipta ( Khalik )

Sifat Baqa

Allah SWT memiliki sifat kekal dan tetap ada selama-lamanya.

Sifat Mukhlafatul Lilhawaditsi

Artinya bahwa Allah berbeda dengan semua makhluknya dalam semua hal.

Sifat Qiyamuhu Binafsihi

Yaitu bahwa Allah SWT maha berdiri sendiri. Sesuai dengan bunyi Q.S Ali Imran ayat 2 yang berarti :
“ Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya”

Hikmah Beriman Kepada Allah SWT

Ada banyak hikmah yang dapat kita ambil dari keimanan terhadap Allah SWT, antara lain sebagai berikut.
a. Dengan menyadari sifat­sifat Allah SWT, manusia harus bisa memelihara lingkungan, sehingga kehidupannya dapat berjalan aman, damai, dan tenteram.
b. Melalui iman kepada Allah SWT, manusia diberi kemudahan dalam mencapai tujuan hidupnya karena Allah SWT selalu memberikan pertolongan kepada hamba­ Nya yang membutuhkan.
c. Apabila manusia telah benar­benar beriman kepada Allah SWT, maka mereka pasti akan mengerjakan semua perintah dan menjauhi segala larangan Allah SWT, sehingga dapat menjalankan perannya sebagai khalifah di bumi dengan baik.
d. Hati menjadi tenang dan tidak gelisah.
e. Tidak akan merasakan kerugian dalam hidupnya.

Menunjukkan Tanda-tanda Adanya Allah SWT

Kita dapat mengetahui kekuasaan Allah SWT melalui ayat­-ayat qauliyah (kabar/informasi dari Al­Qur’an dan hadis atau dalil naqli) dan melalui ayat-­ayat kauniyah (tanda­tanda yang terdapat di alam semesta dalil aqli).
a. Menunjukkan tanda-tanda adanya Allah melalui ayat­-ayat qauliyah atau dalil naqli
Banyak ayat-­ayat Al­Qur’an yang memberikan kabar/informasi kepada manusia mengenai keberadaan Allah SWT. Ayat­-ayat Al­Qur’an memberikan jawaban yang sangat jelas dan tegas mengenai pertanyaan manusia yang ingin mengetahui Tuhan yang sebenarnya. Ayat­-ayat qauliyah yang menjelaskan tentang keberadaan Allah SWT telah kalian pelajari pada bagian terdahulu. Setelah kalian mengkaji ayat-­ayat Al­Qur’an tentang sifat-­sifat Allah SWT, maka menjadi sangat jelas tentang keberadaan Allah SWT. Allah SWT itu benar­benar ada, terdahulu, dan kekal. Allah SWT Maha Kuasa dan Maha Berkehendak. Allah kuasa menciptakan alam seisinya kemudian memelihara dan mengatur alam ini, namun Allah SWT juga berhak bahwa suatu saat akan menghancurkan alam semesta ini.

Allah SWT menciptakan manusia, menyayangi manusia dengan mencukupi rezekinya dan mendidik, serta memberi petunjuk agar menjadi manusia yang saleh, namun Allah SWT juga berhak untuk mengambilnya kembali.
b. Menunjukkan tanda-­tanda adanya Allah melalui ayat­-ayat kauniyah (dalil aqli)
Ayat­-ayat kauniyah merupakan tanda-­tanda keberadaan dan kekuasaan Allah SWT yang berada di alam semesta. Sebagai makhluk yang diberi akal, maka kita diberi kesempatan dan keleluasaan untuk membuktikan keberadaan Allah SWT melalui tanda-­tanda yang ada di alam semesta.
Orang yang tidak mengenali dan tidak menaruh kepedulian pada ayat atau tanda­-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah di alam semesta merupakan salah satu sikap orang yang tidak beriman. Sebaliknya, ciri menonjol pada orang yang beriman yaitu kemampuan memahami tanda­-tanda dan bukti-­bukti kekuasaan Sang Pencipta tersebut.

Contoh Perilaku Iman Kepada Allah

Beberapa contoh perilaku beriman kepada Allah yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari dan sebisa mungkin menjadi kebiasaan baik, seperti :
• Menjaga dan menegakkan Salat
• Menafkahkan sebagian rezeki kepada yang berhak
• Beriman Kepada 6 Rukun Iman, beriman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, Qodo dan Qodar.
• Menyedekahkan sebagian hartanya baik disaat waktu lapang ataupun sempit
• Dalam perilaku sehari-hari selalu berpedoman pada prinsip amal maruf nahi munkar
• Mampu menahan amarah
• Mampu memaafkan kesalahan orang lain
• Berhenti dari perbuatan keji dan tidak mengulanginya lagi dan tobat dengan sebenar-benarnya tobat (tobat nasuha)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*