Materi SMP K13 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 7 Semester 1 Bab 3 Thaharah

Thaharah

thaharah img1 anak wudu

Thaharah-BiarPintar.com – Bersuci merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam. Kita sebagai umat manusia hendaknya senantiasa membersihkan diri baik lahir maupun batin. Dalam hadis sahih, disebutkan bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman. Bersuci dalam agama Islam disebut taharah. Ada banyak cara yang dapat dilakukan umat Islam dalam menjaga kesucian diri. Pada materi berikut akan kalian pelajari tentang tata cara taharah.

Pengertian Thaharah

Membersihkan diri dari hadas kecil dan hadas besar, merupakan kewajiban yang selalu dikerjakan bagi umat Islam.

Thaharah artinya menyucikan badan, pakaian, dan tempat dari hadas dan najis dengan cara yang telah ditetapkan oleh syariat Islam.

Thaharah berhubungan erat dengan sah atau tidaknya pelaksanaan ibadah yang wajib seperti salat atau ibadah lainnya. Hal itu menunjukkan bahwa Islam sangat mementingkan kebersihan umatnya.

Menurut bahasa thaharah berarti bersuci. Adapun menurut istilah syara’ thaharah yaitu menyucikan diri, pakaian, tempat dari segala kotoran (najis) dan hadas, baik itu hadas besar maupun hadas kecil sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al­Qur’an Surah Al­Maidah ayat: 6.
thaharah img1
Artinya: “Hai orang­-orang yang beriman apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan basuhlah kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik(bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia (Allah) hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat­Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”. (QS. Al­Maidah: 6).

Hadas dan Najis

Thaharah bertujuan untuk menghilangkan adanya hadas dan najis. Hadas dan najis merupakan dua hal yang berbeda.

Hadas

Hadas merupakan sesuatu yang terjadi yang mengharuskan bersuci/ membersihkan diri sehingga suci dan sah untuk melaksanakan ibadah. Hadas merupakan keadaan pada diri seseorang yang dianggap bernajis, seperti haid, nifas dan lainnya, sehingga menyebabkan seseorang tidak dibenarkan untuk melakukan salat. Dengan ungkapan lain, hadas merupakan keadaan yang menyebabkan seorang menjadi tidak suci.

Berdasarkan ringan dan tidaknya, hadas dibedakan menjadi dua yaitu hadas kecil dan hadas besar.
1) Hadas kecil, yaitu adanya sesuatu yang terjadi dan mengharuskan seseorang berwudu apabila hendak melaksanakan salat. Contoh hadas kecil yaitu sebagai berikut.
a) Keluarnya sesuatu dari kubul atau dubur, misalnya kentut dan buang air.
b) Tidur tidak dalam keadaan duduk atau tidur dalam keadaan duduk yang tidak tetap pada tempatnya.
c) Menyentuh kubul atau dubur dengan telapak tangan tanpa pembatas.
d) Hilang akal karena sakit, pingsan, dan lain sebagainya.
e) Bersentuhan kulit laki­-laki dengan kulit perempuan yang sudah balig dan bukan muhrim tanpa ada batas yang menghalangi diantara kulit keduanya.

2) Hadas besar, yaitu sesuatu yang keluar atau terjadi, sehingga mewajibkan mandi besar atau junub. Berikut beberapa sebab terjadinya hadas besar.
a) Berhubungan suami istri, baik keluar mani maupun tidak keluar mani.
b) Keluar mani, baik karena mimpi maupun hal lain.
c) Keluar darah haid, yaitu darah keluar dari rahim perempuan melalui faraj atau kemaluannya.
d) Nifas yaitu darah yang keluar dari rahim seorang perempuan melalui faraj setelah melahirkan anak atau keguguran. Darah nifas yang keluar hanya sebentar, maksimal enam puluh hari, biasanya empat puluhhari.
e) Meninggal dunia. Orang yang meninggal dunia sebelum disalatkan, harus disucikan terlebih dahulu dari hadas yaitu dimandikan.

Najis

Najis merupakan sesuatu yang dipandang kotor atau menjijikkan yang harus disucikan, karena menjadikan tidak sahnya melaksanakan suatu ibadah tertentu.

Berdasarkan berat dan ringannya, najis dibagi menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut.
1) Najis mukhafafah, yaitu najis yang ringan adanya. Hal yang tergolong najis mukhafafah yaitu air kencing bayi laki­ laki yang berumur tidak lebih dua tahun dan belum makan apa­apa kecuali air susu ibunya. Cara menyucikan najis mukhafafah cukup dengan mengusapkan/ memercikkan air pada benda yang terkena najis.
2) Najis mutawasihah, yaitu najis sedang. Contohnya kencing, darah, nanah, tinja, dan kotoran hewan. Najis mutawasithah terbagi menjadi dua bagian, yaitu sebagai berikut.
a) Najis hukmiyah, yaitu najis yang diyakini adanya, tetapi, zat, bau, warna, dan rasanya tidak nyata. Misalnya air kencing yang telah mengering. Cara menyucikannya cukup dengan mengalirkan air pada benda yang terkena najis tersebut.
b) Najis ainiyah, yaitu najis yang nyata zat, warna, rasa, dan baunya. Cara menyucikannya dengan menyiramkan air hingga hilang zat, warna, rasa, dan baunya.
3) Najis mugaladhah, yaitu najis berat. Contohnya anjing dan babi. Cara menyucikannya dengan membasuh menggunakan air sebanyak tujuh kali dan salah satunya menggunakan
tanah atau debu.

Najis Haqiqi

Najis haqiqi atau najis ‘aini atau najis hissi menurut bahasa merupakan najis yang mempunyai wujud, rasa, rupa, dan bau seperti darah, tinja, kencing dan sebagainya. Menurut istilah syar’i, najis haqiqi merupakan kotoran yang dapat menghalangi sahnya salat, di mana hal tersebut tidak dapat dimaafkan (tidak ada rukhsoh).

Alat-alat Thaharah

Alat-­alat thaharah merupakan materi atau bahan yang dapat dipergunakan untuk melakukan thaharah. Adapun benda­-benda yang dapat digunakan untuk bersuci dan beristinja, antara lain sebagai berikut.
a. Air dapat digunakan untuk berthaharah. Berdasarkan hukum syar’i, jenis air dapat dibagi menjadi empat macam yaitu sebagai berikut.
1) Air mutlak, yaitu air yang suci dan menyucikan. Contohnya air sumur, air mata air, air sungai, air salju, air laut, dan airhujan.
2) Air musta‘mal, yaitu air yang suci namun tidak dapat menyucikan. Misalnya airkopi, air teh, dan air yang sedikit yang sudah berubah.
3) Air musamma, yaitu air yang suci dan menyucikan, namun hukumnya makruh digunakan untuk bersuci. Misalnya, air yang terjemur oleh sinar matahari dalam bejana.
4) Air mutanajis, yaitu air yang tidak dapat dipergunakan untuk berbagai hal, baik untuk konsumsi atau untuk bersuci.
Dari keempat jenis air tersebut yang sah digunakan untuk bersuci dan beristinja, yaitu air mutlak.

b. Debu yang dapat digunakan sebagai alat tayamum pengganti wudu atau mandi wajib, dan untuk membersihkan air liur anjing.
c. Batu atau benda keras lainnya.
d. Kertas, tisu, atau daun.

Hikmah Thaharah

Berikut hikmah yang dapat diambil dari thaharah.
a. Thaharah merupakan tuntunan fitrah.
b. Memelihara kehormatan dan harga diri.
c. Memelihara kesehatan.
d. Beribadah kepada Allah dalam keadaan suci. Allah menyukai orang­orang yang gemar bertobat dan orang­orang yang bersuci.

Bagaimana Cara Thaharah

Dalam pelaksanaan thaharah harus sesuai urutan karena akan mempengaruhi kesempurnaan thaharah yang kita lakukan. Thaharah atau bersuci akan menjadi wajib apabila bertemu dengan beberapa perkara. Sehingga mewajibkan orang tersebut melaksanakan mandi wajib. Adapun beberapa cara berthaharah, di antaranya sebagai berikut.

Mandi Wajib

Mandi wajib merupakan mandi dengan cara menyiramkan dan meratakan air ke seluruh tubuh dengan niat menghilangkan hadas besar. Seseorang diwajibkan mandi wajib ketika berhadas besar.
a. Rukun mandi wajib
Rukun dalam melaksanakan mandi wajib, di antaranya sebagai berikut.
1) Niat mandi wajib.
2) Menyiramkan air ke seluruh tubuh dengan merata.
3) Membersihkan kotoran yang melekat atau mengganggu air mengalir ke badan.

b. Sunah mandi wajib
Pada waktu mandi wajib disunahkan melakukan beberapa hal, antara lain sebagai berikut.
1) Menghadap kiblat.
2) Membaca basmalah.
3) Berwudu sebelum mandi.
4) Mendahulukan anggota badan yang kanan daripada yang kiri.
5) Menggosok badan dengan tangan.

c. Tata cara mandi wajib
Tata cara mandi secara lengkap meliputi yang wajib dan yang sunah, yaitu sebagai berikut.
1) Niat dalam hati.
2) Membaca basmallah.
3) Mencuci telapak tangan terlebih dahulu tuga kali.
4) Mencuci kemaluan dengan tangan kirinya.
5) Membersihkan tangan kiri
6) Berwudu
7) Menyela­nyelai rambut secara merata dan menyiram kepala.
8) Meratakan air ke seluruh tubuh
9) Bergeser dari tempat semula, lalu membasuh kedua kaki

Wudu

Menurut bahasa, wudu artinya perbuatan menggunakan air pada anggota tubuh tertentu. Dalam istilah syara’, wudu merupakan perbuatan tertentu yang dimulai dengan niat, kemudian dilanjutkan membasuh wajah, kedua tangan, mengusap kepala, dan kedua kaki secara berurutan.
a. Fardhu wudu
Fardhu wudu ada enam perkara, yaitu sebagai berikut.
1) Niat.
2) Membasuh seluruh muka mulai dari tumbuhnya rambut kepala hingga bawah dagu, dan dari telinga kanan hingga telinga kiri.
3) Membasuh kedua tangan hingga siku.
4) Mengusap sebagian rambut kepala.
5) Membasuh kedua belah kaki hingga mata kaki.
6) Tertib, yaitu mendahulukan yang harus didahulukan dan mengakhiri yang harus diakhirkan.

b. Sunah wudu
Sunah­sunah wudu, yaitu sebagai berikut.
1) Membaca basmalah.
2) Membasuh kedua telapak tangan hingga pergelangan.
3) Berkumur­kumur.
4) Membasuh lubang hidung sebelum berniat.
5) Menyapu seluruh kepala dengan air.
6) Mendahulukan anggota badan bagian kanan daripada kiri.
7) Menyapu kedua telinga luar dan dalam.
8) Membasuh sebanyak tiga kali.
9) Menyela­nyela jari­jari tangan dan kaki.
10) Membaca doa setelah wudu.

c. Cara berwudu
Berikut cara berwudu.
1) Membaca basmalah sambil mencuci kedua belah tangan sampai pergelangan tangan hingga bersih.
2) Berkumur­kumur sebanyak tiga kali, sambil membersihkan gigi.
3) Mencuci lubang hidung tiga kali.
4) Mencuci muka tiga kali, mulai dari tumbuhnya rambut kepala hingga bawah dagu, dan dari telinga kanan hingga telinga kiri.
5) Mencuci kedua belah tangan hingga siku­siku tiga kali.
6) Menyapu sebagian rambut kepala sebanyak tiga kali.
7) Menyapu kedua belah telinga tiga kali.
8) Mencuci kedua kaki tiga kali hingga mata kaki.

e. Pembatal wudu
Hal­hal yang membatalkan wudu yaitu sebagai berikut.
1) Keluar sesuatu dari kubul maupun dubur seperti buang air besar, buang air kecil, maupun buang angin.
2) Hilang akal karena, pingsan, tidur nyenyak dan lain­lain.
3) Tersentuh kulit antara laki­laki dan perempuan yang bukan muhrimnya.
4) Tersentuh kemaluan(kubul atau dubur) dengan telapak tangan atau jari­jari yang tidak memakai tutup.

Tayamum

Tayamum yaitu mengusap debu pada wajah dan kedua tangan dengan niat tertentu. Tayamum hanya boleh dilakukan jika dalam keadaan darurat.
a. Alasan bertayamum
Terdapat beberapa keadaan yang dapat menyebabkan seseorang bersuci dengan tayamum, yaitu sebagai berikut.
1) Tidak adaair.
2) Terdapat air, namun dalam jumlah terbatas dan bersamaan dengan adanya kebutuhan lain yang memerlukan air tersebut misalnya untuk minum dan memasak.
3) Khawatir jika bersuci dengan air akan membahayakan badan atau semakin lama sembuh dari sakit.
4) Tidak mampu menggunakan air untuk berwudu karena sakit.
5) Tidak mampu bergerak untuk mengambil air wudu.
6) Tidak adanya orang yang mampu membantu untuk berwudu.

b. Tata cara tayamum
Jika setelah bertayamum masih dalam keadaan suci hingga masuk waktu salat berikutnya, maka kita cukup mengerjakan salat dengan menggunakan tayamum yang pertama tadi, tanpa perlu mengulang tayamum lagi. Adapun tata cara bertayamum yang benar, yaitu sebagai berikut.
1) Menepukkan kedua telapak tangan ke permukaan bumi dengan sekali pukulan, kemudian meniupnya.
2) Menyapu punggung telapak tangan kanan dengan tangan kiri dan sebaliknya.
3) Menyapu wajah dengan dua telapak tangan.
4) Semua usapan baik ketika mengusap telapak tangan dan wajah dilakukan hanya sekali usapan saja.
5) Bagian tangan yang diusap yaitu telapak tangan sampai pergelangan tangan saja, atau dengan kata lain tidak sampai siku seperti pada saat wudu.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*