Materi SMP K13 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 7 Semester 1 Bab 4 Salat Berjamaah

Salat Berjamaah

salat berjamaah_pai7_bab4_img1
Salat Berjamaah-BiarPintar.com – Salat lima waktu yang dikerjakan secara berjamaah, maka akan menambah derajat pahala seseorang yang semula satu menjadi 27 derajat. Salat berjamaah umumnya dikerjakan umat muslim dan muslimah di masjid. Namun, jika sedang di rumah, kalian juga dapat mengerjakan salat berjamaah bersama orang tua, kakak, atau adik kalian. Pahala yang diperoleh jika mengerjakan salat berjamaah jauh lebih banyak dibandingkan mengerjakan salat sendirian. Bagaimanakah ketentuan salat berjamaah? Mari, kita pelajari bersama pada materi yang disajikan oleh tim biarpintar berikut!

Pengertian Salat Berjamaah

Salat berjamaah merupakan salat yang dilakukan secara bersama­-sama oleh minimal lebih dari satu orang yaitu satu imam dan satu makmum. Salat berjamaah umum dilakukan di masjid atau musala, tapi tidak jarang juga dilakukan di rumah dalam satu keluarga./

Berjamaah dalam salat telah dianjurkan oleh Rasulullah saw kepada umatnya, baik laki­-laki maupun perempuan. Namun, sekarang masih saja ada orang-­orang yang bermalas-­malasan dalam menjalankan ibadah salat berjamaah. Diwajibkan bagi umat Islam untuk mendirikan salat, karena salat merupakan tiang agama. Salat berjamaah utama dilakukan pada saat melaksanakan salat fardu.

Sebagaimana firman Allah:
salat berjamaah_pai7_bab4_img2
Artinya: “Dan dirikanlah salat, bayarlah zakat, dan rukuklah bersama orang­-orang yang rukuk’.“(Q.S.Al­ Baqarah: 43).

Hukum Salat Berjamaah

Istilah al­jama’ah berarti berkumpul. Salat berjamaah merupakan salat yang dilakukan oleh dua orang atau lebih secara bersama­-sama.
Dalil tentang disyariatkannya salat berjamaah yaitu Q.S.An­Nisa’:102 dan Al­ Baqarah:43.
salat berjamaah_pai7_bab4_img3
Artinya: “Dan apabila kamu (Muhammad) berada di tengah-­tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan salat bersama­-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) besertamu…” (QS.An­ Nisa’:102)

Salat berjamaah lebih baik dan lebih utama daripada salat sendiri. Keutamaan salat jamaah atas salat sendiri yaitu dua puluh tujuh derajat. Sesuai dengan hadis dari ‘Abdullah bin ‘Umar r.a., “Rasulullah saw bersabda, ‘Salat jamaah lebih utama daripada salat sendirian dengan dua puluh derajat.” (H.R. Muttafaq ‘alaih).

Melihat dari segi keutamaan pahala dan tujuan dari salat berjamaah, maka ada beberapa ulama yang berbeda pendapat mengenai hukum salat ini. Beberapa dari mereka ada yang mengatakan bahwa hukum salat berjamaah yaitu sunah muakkad, sedangkan yang lain ada yang berpendapat hukumnya fardhu kifayah, bahkan ada yang mengatakan hukumnya fardhu ‘ain.

Adapun dari sumber lain mengatakan, yaitu sebagai berikut.
a. Sunah muakkad merupakan pendapat yang terkenal dari murid­-murid Abu Hanifah, mayoritas murid Imam Malik, banyak dari murid Imam Syafi’i, dan salah satu riwayat dari Ahmad.
b. Fardhu kifayah merupakan pendapat yang diunggulkan dalam mazhab Syafi’i, pendapat beberapa murid Imam Malik, dan salah satu pendapat dalam mazhab Ahmad.
c. Fardhu ‘ain merupakan pendapat yang diriwatkan dari Ahmad dan imam­-imam salaf lainnya, fuqaha ahli hadis, dan lainnya.

Syarat Sah Salat

Salat berjamaah sah apabila memenuhi syarat sebagai berikut.
a. Ada imam.
b. Makmum berniat untuk mengikuti imam.
c. Salat dikerjakan dalam satu majelis.
d. Salat makmum sesuai dengan salatnya imam.

Syarat menjadi imam, yaitu sebagai berikut.
a. Mengetahui syarat dan rukun salat, serta perkara yang membatalkan salat.
b. Fasih dalam membaca ayat-­ayat Al­Qur’an.
c. Paling luas wawasan agamanya dibandingkan yang lain.
d. Berakal sehat.
e. Balig.
f. Berdiri pada posisi paling depan.
g. Seorang laki­laki (perempuan juga boleh jadi imam kalau makmumnya perempuan semua).
h. Tidak sedang bermakmum kepada orang lain.

Syarat imam yang lain, yaitu sebagai berikut.
a. Laki-­laki, syarat ini untuk jamaah yang heterogen (terdiri laki-­laki, perempuan, dan banci).
b. Perempuan sah menjadi imam jika makmumnya hanya kaum perempuan.
c. Imam berada dalam satu tempat dengan makmum.

Syarat menjadi makmum, yaitu sebagai berikut.
a. Berniat mengikuti imam. Adapun imam tidak disyaratkan berniat menjadi imam, hal itu sunah, agar ia mendapat pahala berjamaah.
b. Mengiringi imam dalam semua pekerjaannya. Maksudnya makmum tidak mendahului gerakan imam, juga tidak persis bersamaan.
c. Mengikuti setiap gerakan salat imam, misalnya ketika berdiri, rukuk, dan seterusnya, termasuk ketika sujud sahwi; tidak sebaliknya, misalnya imam sudah iktidal, makmum baru akan rukuk.
d. Berada dalam satu tempat dengan imam.
e. Tidak berdiri di depan imam.
f. Mengikuti imam yang aturan salatnya sama. Artinya, tidak sah salat fardhu yang lima mengikuti imam yang sedang salat gerhana (karena salat gerhana, aturan rukuknya dua kali­dua kali) atau salat mayat (yang aturannya cukup dengan 4 kali takbir dan tidak rukuk).
g. Tidak berimam kepada orang yang sedang menjadi makmum.
h. Tidak mengikuti imam yang diketahui tidak sah (batal) salatnya. Misalnya, mengikuti imam yang makmum ketahui bukan orang Islam, atau ia berhadas/bernajis badan, pakaian atau tempatnya.

Makmum Masbuk

Makmum yang mengikuti imam secara sempurna dari awal hingga akhir disebut makmum muwafik. Adapun makmum yang tertinggal disebut makmum masbuk. Apabila makmum datang terlambat, maka didahulukan dengan niat sebagai makmum dan mengikuti segala gerakan imam, selanjutnya kekurangan rakaat makmum disempurnakan setelah imam selesai melaksanakan salat yang diucapkan dengan salam.

Halangan Salat Berjamaah

Seseorang boleh tidak melaksanakan salat ini dengan alasan yaitu sebagai berikut.
a. Hujan lebat atau angin kencang yang menyulitkan perjalanan ke masjid.
b. Sakit yang cukup parah, sehingga sulit untuk ke masjid.
c. Karena lapar dan haus, sementara makanan sudah tersedia.
d. Merasa ingin buang air besar atau air kecil.

Tata Cara Salat Berjamaah

salat berjamaah_pai7_bab4_img4
Artinya: “Dari Ibnu Umar r.a., bahwa Rasulullah saw bersabda: salat berjamaah itu melebihi keutamaan salat sendirian, dengan dua puluh tujuh derajat”. (HR.Bukhari).

Dalam salat berjamaah, antara imam dan makmum tidak boleh ada pembatas yang menghalangi. Makmum harus mengetahui gerak dan mendengar bacaan imam. Seseorang dijadikan imam untuk diikuti oleh makmum dalam segala gerak perbuatannya. Selain itu, imam disunahkan untuk meringankan atau tidak terlalu berpanjang-­panjang dalam melaksanakan salat.

Selama hidupnya Nabi SAW selalu menyerukan ditegakkannya salat. Padahal, perintah salat telah banyak dijelaskan dalam ayat-­ayat Al­Qur’an. Tidak kurang ada 25 tempat dalam Al­Qur’an yang menyerukan salat.

Sebagaimana kita ketahui bahwa salat berjamaah itu dapat dilaksanakan minimal oleh dua orang. Artinya, satu orang menjadi imam dan seorang lagi menjadi makmum. Salat berjamaah yang dilaksanakan oleh dua orang berbeda dengan salat barjemaah yang dilaksanakan oleh tiga orang atau lebih. Dalam berjamaah, ketika orang yang melaksanakan salat hanya dua orang, maka salat imam dan makmum harus berada dalam satu garis/ baris. Apabila diumpamakan ada sebuah garis, maka posisi telapak kaki imam agak kedepan dan posisi kaki makmum agak sedikit ke belakang. Artinya, pada garis yang sama telapak kaki imam menyentuh garis, dan telapak kaki makmum juga menyentuh garis yang sama. Sehingga, kalau ada orang yang salat berjamaah dengan jumlah minimal dua orang dan posisi antara imam dan makmum berjauhan, maka salat mereka tidak dihitung berjamaah artinya salatnya sah, tetapi pahala berjamaahnya hilang.
Salat berjamaah yang jumlahnya tiga orang atau lebih, yaitu satu orang menjadi imam dan dua orang lainnya atau lebih menjadi makmum, dalam praktiknya berbeda dengan salat berjamaah yang dilaksanakan oleh dua orang. Salat berjamaah yang jumlahnya tiga orang atau lebih, maka dilaksanakan dengan mengambil posisi depan belakang. Maksudnya, satu orang yang menjadi imam berada di garis (saf) depan, sedangkan dua orang atau lebih yang menjadi makmum berada digaris (saf) belakangnya, dengan posisi saling berdekatan. Apabila tidak demikian, maka fadhilah (keutamaan) berjamaah juga akan hilang.

Hikmah Salat Berjamaah

Dari uraian materi tersebut dapat diambil kesimpulan, yaitu sebagai berikut.
Agar memperoleh keutamaan dalam salat ini, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi baik bagi imam maupun makmum. Ketentuan syariat tentang syarat ini dimaksudkan untuk membedakan antara salat berjamaah dengan kerumunan orang yang kebetulan bersama-­sama orang berada di satu tempat. Adapun hikmah salat ini, antara lain sebagai berikut.
1. Persatuan umat.
2. Mensyiarkan syiar Islam.
3. Merealisasikan penghambaan kepada Allah, Tuhan semesta alam.
4. Membakar kemarahan musuh­musuh Islam.
5. Bersegera mengerjakan kebaikan dan melipatgandakan pahalanya.
6. Menghilangkan perbedaan status sosial.
7. Memantau keadaan umat Islam dan merealisasikan ukhuwah Islamiyah.

Kewajiban salat ini telah lama diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan penekanan yang khusus. Para alim ulama Islam semenjak awal sejarahnya telah mencoba mempelajari alasannya. Hal tersebut bukan sekadar mencari pembenar untuk meyakinkan diri sendiri, namun untuk kesempurnaan ibadah dalam salat dan memohon rahmat Allah SWT. Sikap­ sikap dalam salat yang harus dijaga secara terus­ menerus akan menyelamatkan kita kelak di hari akhir dan di dunia akan dihormati oleh sesama umat Islam sebagai umat yang taat dan selalu mengajak dalam beribadah sebagai wujud amar ma’ruf nahi munkar.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*