Materi SMP K13 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 7 Semester 1 Bab 5 Sirah Nabawiyah

Sirah Nabawiyah

sirah nabawiyah_pai7_bab5_img1

Sirah Nabawiyah-BiarPintar.com – Umat Islam harus beriman kepada Allah SWT dan rasul­Nya yaitu Nabi Muhammad saw. Tingkat keimanan seseorang diukur dari seberapa percayanya orang tersebut terhadap rukun iman. Tahukah kalian, bagaimanakah cara mengimani Nabi Muhammad saw? Ada banyak cara yang dapat kalian lakukan untuk mengimani Nabi Muhammad saw salah satunya dengan selalu membaca salawat nabi dan rasul. Pernahkah kalian mendengar kisah tentang Nabi Muhammad saw? Pada materi berikut akan kalian pelajari tentang kisah Nabi Muhammad saw.

Pengertian Sirah Nabawiyah

Pada pembahasan kali ini, kita hanya akan mengulas beberapa hal dari keseluruhan Sirah Nabawiyah Baginda Nabi Muhammaad saw.

Sirah Nabawiyah adalah rekaman seluruh mata rantai perjalanan Nabi besar Muhammad SAW dari lahir, kecil, remaja, dewasa, pernikahan, menjadi Nabi, perjuangannya yang heroik dan tantangan-tantangan besar yang dilaluinya, hingga wafatnya.

Sebelum Islam datang, masyarakat Mekah berpandangan bahwa hidup di dunia hanya sekali dan tidak akan ada lagi kehidupan sesudahnya, sehingga kehidupan mereka hanya digunakan untuk maksiat dan bersenang­-senang. Keadaan masyarakat kota Mekah pada waktu itu dikatakan sebagai masa jahiliah.

Kakbah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim a.s. dan putranya, Nabi Ismail a.s. pada awalnya digunakan sebagai tempat beribadah kepada Allah. Namun oleh masyarakat Mekah, kakbah digunakan sebagai tempat penyembahan berhala. Ratusan berhala berbagai bentuk berserakan di sekitar kakbah bersama empat berhala besar yakni Hubal, Latta, Manat, dan Uzza.
Sebelum Nabi Muhammad saw lahir, terjadi penyerangan terhadap Mekah oleh pasukan bergajah yang dipimpin oleh Raja Habasyah yang bernama Abrahah. Oleh sebab itu, tahun kelahiran Nabi Muhammad saw dikenal sebagai tahun Gajah.

Nabi Muhammad saw lahir pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awal, tahun Gajah.

Raja Abrahah merupakan seorang gubernur dari kerajaan Nasrani Abessinia yang memerintah di Yaman. Mereka hendak menghancurkan kakbah. Raja Abrahah saat itu berkendaraan gajah. Akan tetapi, di pertengahan jalan, pasukan bergajah tersebut telah dihancurkan oleh Allah SWT, yaitu dengan mengirimkan burung ababil. Peristiwa ini dijelaskan dalam firman Allah SWT dalam Surah Al­Fil (105) ayat 1­5.
sirah nabawiyah_pai7_bab5_img2
Artinya: “Apakah kamu (Muhammad) tidak memerhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan kakbah) itu sia­-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-­bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-­daun yang dimakan (ulat).”

Kelahiran Nabi Muhammad saw

Nabi Muhammad saw dilahirkan sebagai anak yatim karena ayahnya telah meninggal tujuh bulan sebelum kelahirannya. Ada beberapa peristiwa penting yang mengiringi kelahiran Nabi Muhammad saw, di antaranya sebagai berikut.
a. Aminah tidak merasa sakit perut ketika hendak melahirkan.
b. Ketika mengandung Nabi Muhammad saw, Aminah tidak pernah merasakan lelah, capek, dan tidak pernah merasa takut.
c. Nabi Muhammad saw lahir sudah dalam keadaan terkhitan (sunat).
d. Pepohonan yang daunnya mengering, menjadi hijau kembali dan buahnya cepat matang.
e. Tersungkurnya berhala­-berhala di kerajaan orang­-orang kafir.
f. Seluruh binatang, baik yang ada di darat maupun di laut bergembira atas kelahiran Nabi Muhammad saw.
g. Berhala-­berhala yang berada di sekeliling kakbah berjatuhan dalam keadaan sujud.

Nabi Muhammad saw disusui ibunya, Siti Aminah hanya tiga hari, kemudian diserahkan kepada Tsu’aibah Aslamiyah. Ketika Tsu’aibah wafat, kemudian Nabi Muhammad saw diserahkan kepada Halimah As­Sa’diyah. Nabi Muhammad saw disusui dan diasuh oleh Halimah As­Sa’diyah di pegunungan di sebuah dusun selama 5 tahun. Selama mengasuh Nabi Muhammad saw, Halimah banyak mendapatkan kebaikan. Keledai betina milik Halimah yang sebelumnya berjalan lambat, setelah pulang membawa beliau, larinya menjadi kencang, dan kambing-­kambing milik Halimah menghasilkan susu yang melimpah.

Kisah Nabi Muhammad saw

Nabi Muhammad saw menjadi yatim piatu ketika berumur 6 tahun. Nabi Muhammad saw diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib selama dua tahun. Setelah kakeknya meninggal, Nabi Muhammad akhirnya diasuh oleh pamannya, yaitu Abu Thalib. Nabi Muhammad selalu membantu pekerjaan pamannya, yaitu menggembala kambing.

Ketika Nabi Muhammad saw berusia 12 tahun, beliau diajak pamannya ke negeri Syam untuk berdagang. Sesampainya di Bushra, mereka bertemu dengan pendeta Nasrani, yaitu Bukhaira yang melihat tanda­-tanda kenabian pada diri Muhammad, kemudian dia menasihati Abu Thalib agar memelihara Muhammad dengan baik.

Ketika Nabi Muhammad saw berusia 15 tahun, terjadilah peristiwa bersejarah bagi penduduk Mekah, yaitu perang antara suku Quraisy dan Kinanah. Nabi Muhammad saw ikut membantu menyiapkan keperluan perang. Beliau gigih, berani, tidak pernah takut, dan pantang menyerah dalam perang itu. Hingga Nabi Muhammad saw mendapat gelar Al­-Amin, yang artinya orang yang dapat dipercaya.

Pada usia 25 tahun, beliau berjualan barang dagangan milik Khadijah ke Syam. Nabi Muhammad saw dipercaya untuk berdagang dan ditemani oleh Maisarah. Ketika berdagang, beliau jujur dan amanah. Peristiwa tentang cara dagang yang dilakukan Muhammad itu diceritakan oleh Maisarah kepada Khadijah. Kemudian Khadijah tertarik dan mengutus Nufaisah binti Munya untuk menemui Muhammad agar mau menikah dengan Khadijah. Usia Khadijah waktu itu 40 tahun dan Nabi Muhammad saw 25 tahun. Pernikahan tersebut dikaruniai enam orang anak, yaitu dua putra dan empat putri. Mereka bernama Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kalsum, dan Fatimah. Kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad saw pun diliputi kebahagiaan.

Nabi Muhammad saw Diangkat Menjadi Rasul

Awal Kerasulan

Pada usia 40 tahun, Nabi Muhammad saw sering berkhalwat di Gua Hira’ yaitu berdiam diri untuk beribadah dengan merenungkan segala sesuatu dan memohon petunjuk kepada Allah SWT. Hal ini dilakukan seiring dengan berbagai masalah yang dihadapi dan kondisi masyarakat Mekah saat itu.

Ketika sedang berkhalwat pada malam tanggal 17 Ramadan, bertepatan dengan 6 Agustus 610 M, Nabi Muhammad saw menerima wahyu pertama dari Allah SWT melalui perantara Malaikat Jibril. Nabi Muhammad saw diperintahkan membacanya, namun Rasulullah saw berkata bahwa ia tidak dapat membaca. Malaikat Jibril mengulangi permintaannya, tetapi jawabannya tetap sama. Demikian percakapan Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad saw ini diulang sampai tiga kali. Akhirnya, Malaikat Jibril membacakan wahyu pertama yang turun, yaitu Q.S. Al­Alaq [96]: 1­5.
sirah nabawiyah_pai7_bab5_img3
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. Al­Alaq [96]: 1­5)

Rasulullah saw mengulang bacaan tersebut dengan hati yang bergetar, lalu pulang menemui Khadijah untuk minta diselimuti. Khadijah khawatir terhadap keadaan Rasulullah saw, kemudian dia menemui Waraqah bin Naufal dan menceritakan kejadian yang dialami oleh Rasulullah saw. Waraqah menanggapi “Maha Suci, Maha Suci,dia benar-­benar nabi umat ini, katakanlah kepadanya, agar dia berteguh hati.”

Pertengahan Kerasulan

Setelah beberapa lama dakwah Nabi Muhammad saw tersebut dilaksanakan secara individual, turunlah perintah agar nabi menjalankan dakwah secara terbuka. Mula­-mula beliau mengundang dan menyeru kerabat karibnya dan Bani Abdul Muthalib. Beliau mengatakan di tengah-­tengah mereka, “Saya tidak melihat seorang pun di kalangan Arab yang dapat membawa sesuatu ke tengah­-tengah mereka lebih baik dari apa yang saya bawa kepada kalian. Kubawakan kepada kalian dunia dan akhirat yang terbaik. Tuhan memerintahkan saya mengajak kalian semua. Siapakah diantara kalian yang mau mendukung saya dalam hal ini?”. Mereka semua menolak kecuali Ali bin Abi Thalib.
Pada permulaan dakwah, orang yang pertama menerima dakwah nabi yaitu masuk Islamya itu dari pihak laki­-laki dewasa yaitu Abu Bakar Ash­Shiddiq, dari pihak perempuan yaitu istri nabi saw yaitu Khadijah, dan dari pihak anak-­anak yaitu Ali bin Abi Thalib ra.

Dakwah Nabi Muhammad saw Di mekah

Dakwah pada awal kenabian Rasulullah saw ditujukan kepada masyarakat Arab jahiliah. Dalam bidang agama, masyarakat Arab waktu itu sudah menyimpang jauh dari ajaran tauhid, yang telah diajarkan oleh para rasul terdahulu, seperti Nabi Adam a.s. Mereka umumnya beragama Watsani atau agama penyembah berhala. Tujuan dakwah Rasulullah saw pada periode Mekah yaitu agar masyarakat Arab meninggalkan kejahiliahannya di bidang agama, moral, dan hukum, sehingga menjadi umat yang meyakini kebenaran kerasulan Nabi Muhammad saw dan ajaran Islam yang disampaikannya, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari­-hari.

Strategi dakwah Rasulullah saw yaitu sebagai berikut.
1. Dakwah Secara Sembunyi-sembunyi
Setelah turunnya wahyu yang kedua yaitu Q.S. Al­Mudatsir [74]: 1­7, Rasulullah saw berdakwah secara sembunyi-­sembunyi dengan mengajak keluarganya dan sahabat-­sahabat beliau satu demi satu masuk Islam. Orang­ orang yang pertama-­tama masuk Islam, antara lain sebagai berikut.
a. Siti Khadijah.
b. Ali bin Abi Thalib.
c. Zaidbin Haritsah.
d. Abu Bakarash­Shidiq.

Adapun orang­-orang yang masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar ash­Shidiq antara lain sebagai berikut.
a. Utsman binAffan.
b. Zubair binAwwam.
c. Sa’ad bin Abi Waqas.
d. Abdurahman bin Auf.
e. Thalhah bin Ubaidillah.
f. Abu Ubaidillah binJarrah.
g. Arqam bin Abil Arqam.
h. Fatimah binti Khathab.

Mereka yang masuk Islam pertama kali disebut sebagai as­sabiqunal awwalun yang artinya orang-orang terdahulu yang pertama masuk Islam serta mendapat pelajaran tentang Islam langsung dari Rasulullah saw di rumah Arqam bin Abil Arqam.

sirah nabawiyah_pai7_bab5_img4
Artinya: “Maka sampaikanlah (Muhammad) olehmu secara terang-­terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang­-orang yang musyrik.”(Q.S.Al­Hijr[15]:94)

Dengan dilakukannya dakwah oleh Rasulullah saw secara terang-­terangan, Islam menjadi perhatian dan pembicaraan yang ramai di kalangan masyarakat Mekah, sehingga pengikutnya semakin bertambah. Akan tetapi, berbeda dengan tanggapan orang­-orang kafir Quraisy yang menentang dakwah dan ajaran Rasulullah saw. Mereka melarang syiar Islam, bahkan nyawa Rasulullah saw terancam. Akan tetapi, Rasulullah saw dan kaum muslim tidak gentar. Kaum Quraisy berpendapat bahwa tunduk kepada Rasulullah saw berarti sama dengan tunduk dan menyerahkan kepemimpinan atau kekuasaan kepada keluarga Muhammad, yaitu Bani Abdul Muthalib. Adapun tahap-­tahap dakwah Rasulullah saw secara terang-­terangan antara lain sebagai berikut.
a. Mengundang kaum kerabat keturunan dari Bani Hasyim, untuk menghadiri jamuan makan dan mengajak agar masuk Islam. Walau banyak yang belum menerima agama Islam, ada tiga orang kerabat dari kalangan Bani Hasyim yang sudah masuk Islam, tetapi merahasiakannya, antara lain Ali bin Abu Thalib, Ja’far bin Abu Thalib, dan Zaid bin Haritsah.
b. Rasulullah saw mengumpulkan para penduduk kota Mekah, terutama yang berada dan bertempat tinggal di sekitar kakbah untuk berkumpul di Bukit Shafa. Berbagai cara ditempuh orang Quraisy untuk mengalahkan dan menghentikan dakwah Nabi Muhammad saw namun selalu gagal.

Berikut upaya yang dilakukan oleh kaum Quraisy, untuk menentang dakwah Nabi Muhammad saw.
a. Kaum kafir Quraisy menyusun siasat untuk melepaskan hubungan antara Nabi Muhammad saw dengan Abu Thalib dan mengancamnya. Mereka mengira bahwa kekuatan Nabi Muhammad terletak pada perlindungan dan pembelaan Abu Thalib yang amat disegani. Akhirnya Abu Thalib cukup terpengaruh dengan ancaman tersebut, sehingga ia mengharapkan Muhammad menghentikan dakwahnya. Namun, Rasulullah saw menolak dengan bijaksana yang membuat Abu thalib terharu dan bertekad terus membela Rasulullah saw
b. Kaum Quraisy kemudian mengutus Walid bin Mughirah dengan membawa Umarah bin Walid, seorang pemuda yang gagah dan tampan, untuk dipertukarkan dengan Nabi Muhammad saw, akan tetapi ditolak oleh Abu Thalib. Berikutnya, mereka langsung kepada Nabi Muhammad saw. Mereka mengutus Utbah bin Rabiah, seorang ahli retorika, untuk membujuk Nabi Muhammad saw. Mereka menawarkan takhta, wanita, dan harta dengan syarat, bahwa Nabi Muhammad bersedia menghentikan dakwahnya. Semua tawaran itu ditolak oleh Nabi Muhammad saw.
c. Gagal pada rencana pertama dan kedua kemudian kaum Quraisy melakukan pemboikotan terhadap Bani Hasyim, yang merupakan tempat Rasulullah saw berlindung. Pemboikotan ini berlangsung selama tiga tahun dan merupakan tindakan yang paling melemahkan umat Islam di kota Mekah pada waktu itu.

Hikmah Mengkaji dan Mempelajari Sirah Nabawiyah

Berikut beberapa hikmah dan keutamaan mempelajari dan mengkaji tentang Sirah Nabawiyah.
• Meningkatkan keyakinan dan keimanan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
Dengan mengkaji dan mempelajari sirah nabawiyah atau sejarah perjalanan kehidupan nabi, maka kita akan dapat memahami kepribadian dan akhlak mulia Rasulullah saw. Bagaimana kehidupan beliau, dimulai dari kelahiran, masa kecil, masa remaja, masa dewasa, awal mula kerasulan, permulaan dakwah beserta tantangan dan hambatannya, menjalani kehidupan manusia seutuhnya, akhirnya membawakan manusia sebuah pesan dari Allah SWT berupa tuntunan dunia dan akhirat yang terbaik dalam bentuk agama Islam. Dengan melihat fakta ini, maka akan terbukti bahwa Rasulullah saw. bukan sekadar sosok jenius yang sangat terpandang di kalangan kaumnya. Beliau pasti lebih daripada itu. Beliau adalah utusan Tuhan yang risalahnya didukung oleh wahyu yang diturunkan langsung dari sang Maha Pencipta.
• Mendapatkan figur sosok dan suri teladan terbaik dalam diri Rasulullah saw.
Pada setiap fase kehidupan Nabi, kita umat muslim dapat menemukan sosok figur dan suri teladan paling luhur dan terbaik. Apapun profesi seseorang, entah petani, nelayan, seniman, guru, pengusaha, atau suami, kita semua dapat mencontoh dan meneladani Nabi dalam bentuk yang paling sempurna. Dengan demikian, kita semua dapat menjadikan beliau figur sosok dan suri teladan yang segala perkataan dan tindakannya benar-benar diikuti. Itulah mengapa Allah Swt. sendiri menahbiskan Rasulullah saw. sebagai teladan bagi umat manusia (uswatun khasanah).
• Meningkatkan pemahaman yang utuh atas Alquran.
Ketika seorang memahami sirah Nabawiyah dengan baik, maka semakin mudah baginya memahami Alquran, merasakan ruh kehadiran dan tujuan Alquran. Hal ini demikian karena sebagian besar ayat Alquran turun berkenaan dengan peristiwa yang menimpa Rasulullah saw. Jadi dengan memperhatikan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan turunnya ayat tersebut, makna ayat tertentu menjadi lebih terang dan lebih jelas.
• Penyempurna keislaman kita.
Perjalanan hidup Rasulullah memberikan setiap muslim banyak manfaat menyangkut ranah akidah, hukum, maupun akhlak. Apalagi, tidak disangsikan bahwa kehidupan Rasulullah saw. adalah potret nyata bagaimana sebuah peradaban Islam mampu menghimpun semua prinsip pokok ajaran Islam dalam bentuknya yang paling ideal.
• Menjadikan metode dakwah Rasulullah saw sebagai teladan dalam kita berdakwah
Rasulullah adalah seorang pendidik sukses. Dengan mempelajari sejarah hidup beliau, maka setiap dai dan guru dapat menerapkan berbagai metode pendidikan yang diwariskan Rasulullah Saw. Beliau adalah seorang pendidik yang paling utama. Beliau telah berhasil dengan sangat gemilang dalam berdakwah. Semua metode pendidikan paling cemerlang ini dapat ditemukan di sepanjang fase dakwah yang beliau lalui.

Dari uraian materi tersebut dapat diambil kesimpulan, yaitu sebagai berikut.
1. Setelah turunnya wahyu yang kedua yaitu Q.S. Al­Mudatsir [74]: 1­7, Rasulullah saw berdakwah secara sembunyi-­sembunyi dengan mengajak keluarganya dan sahabat­ sahabat beliau satu demi satu masuk Islam. Orang­-orang yang pertama­tama masuk Islam, antara lain sebagai berikut.
a. Siti Khadijah.
b. Ali bin Abi Thalib.
c. Zaidbin Haritsah.
d. Abu Bakarash­Shidiq.
2. Islam mengajarkan bahwa pencipta dan pemelihara seluruh alam semesta beserta isinya yaitu Allah SWT, Yang Maha Esa. Umat manusia harus beribadah atau menghambakan diri hanya kepada Allah SWT.
3. Dengan dilakukannya dakwah oleh Rasulullah saw secara terang­-terangan, Islam menjadi perhatian dan pembicaraan yang ramai di kalangan masyarakat Mekah, sehingga pengikutnya semakin bertambah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*